Clock

Kamis, 12 November 2015

PSIKOLOGI KEPRIBADIAN



SILABUS MATA KULIAH PSIKOLOGI KEPRIBADIAN MAHASISWA 
TEOLOGIA JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN  
UNIVERSITAS KRISTEN SURAKARTA
A.  TUJUAN KULIAH
     Setelah mengikuti mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan mampu menguasai sejarah awal perkembangan teori kepribadian beserta aliran-aliran dan konsep-konsep yang digunakan masing-masing teoritikus; serta mampu memahami perspektif holistik-humanistik, fenomenologi, dunia pribadi, konstruk pribadi, keunikan pribadi, analisis faktor, teori learning dan, social learning, dan pendekatan transpersonal tentang kepribadian.
B.  SUSUNAN MATERI
       Masing-masing pokok  ajaran akan diberikan sesuai urutan SKS yang direncanakan tersebut dibawah  ini:
  1. Pendahuluan, pengertian tentang psikologi kepribadian
  2. Psiko analitis Klasik
  3. Psiko Analitis
  4. Teori-teori Kepribadian
  5. Psokologi Dinamika
  6. Psikologi Individual
  7. Psikologi Konstitusi
  8. Tipologi
  9. Kepribadian menurut Behaveriostik
  10. Kepribagian menurut Humanistik
  11. Kepribadian dalam perspektif pendidikan
  12. Kepribadian dalam perspektif transendental
  13. Personologi
  14. Ujian semester

C.   STRATEGI YANG DIGUNAKAN
1.    Kuliah tatap muka/presentasi
2.    Tanya jawab/diskusi
3.    Penyelesaian tugas diluar kelas

D.     EVALUASI
1.   Test Tengah semester (TTS) dan Test Akhir Semester (TAT)
2.   Penyelesaian tugas-tugas
3.   Presentasi kehadiran kehadiran dalam kelas
4.   Partisipasi aktif (pro aktif selama kuliah)

E.     BACAAN WAJIB
1.      Psikologi Kepribadian (Alwisol)
2.      Psikologi Kepribadian dengan perspektif Baru (Purwa Atmaja Prawira)

F.    BUKU YANG DIANJURKAN
1.    Psikologi Kepribadian (Sumadi Suryabrata)
2.    Teori Kepribadian (Yustinus Semiun, OFM.)
3.    Psikologi kepribadian (Lynn Wilcok)
4.    Teori-teori Kepribadian (Koeswara, E.)
                                                                                                          
 Surakarta,  September 2015
                Dra. Sumartinah, SMPh. STh. MPd.















MATERI KULIAH PSIKOLOGI KEPRIBADIAN


BAB I  PENDAHULUAN

A.   TERMINOLOGI
Psikologi arti kata dasarnya berbeda dengan kata yang dipahami saat ini. kata ‘psikologi” berasal dari bahasa Yunani “psyche” dan “logos”. Psyche artinya nafas, “… hidup ( diidentifikasikan dengan adanya nafas); prinsip kehewanan pada manusia dan pada mahkluk lain, sumber segala aktivitas mendasar, “jiwa” atau “roh” atau “prinsip kehewanan dari dunia sebagai suatu keseluruhan, jiwa dunia atau anima mundi” (Lynn Wilcox 2013, hal 23). Logos, artinya suatu kata atau bentuk yang mengekspresikan suatu prinsip; dalam teologi, logos digunakan untuk menunjukkan kata Tuhan.
 Dengan demikian, psikologi awalnya berarti: kata atau bentuk yang mengungkapkan prinsip kehidupan, jiwa atau roh. Kata psikologi pertama kali digunakan dalam bahasa Inggris pada tahun 1600-an untuk mengacu pembicaraan tentang jiwa. Psikologi pada awalnya merupakan sebuah cabang metafisika yang berhubungan dengan konsep tentang jiwa. Perubahan kemudian, terjadi secara berangsur-angsur. Pada tahun 1830-an psikologi digunakan untuk mengacu pada jiwa atau spirit dan keadaan dari pikiran, diri (self), atau ego. Alasan terjadinya perubahan makna ini tidak begitu jelas, tetapi berlanjut terus.
Secara mengejutkan, banyak hasil penelitian psikologi kontemporer yang tidak mendifinisikan psikologi. Salah satu kamus psikologi yang paling luas digunakan, The Oxford English Dictionary, mendifinisikan psikologi sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku, tindak-tanduk, proses mental, pikiran, diri, atau manusia yang berperilaku dan memiliki proses-proses mental; sebuah cabang dari filsafat, dan diakui sebagai bagian dari metafisika.
Psikologi  kepribadian sebenarnya bukanlah barang baru. Cabang ilmu pengetahuan yang disebut psikologi kepribadian disini sebenarnya telah lama diupayakan oleh para ahli, hanya sering kali diberi nama lain, sebagaimana dibawah ini:
1.     Psikologi kepribadian seringkali disebut karakterologi, tipologi, psikologi karakter, ilmu watak, teori kepribadian. Dari berbagai nama itu, maka psikologi kepribadianlah yang paling tepat.
2.     Kata watak tidak dipakai dalam satu arti. Seringkali kata watak yang sebagai sifat benda-benda/manusia. Kita sering mendengar peryataan tentang watak sesuatu benda, misalnya: pemandangan, lukisan, pohon. Kedua kata watak dikenakan kepada manusia yang mempunyai arti rangkap, yakni:
-          Kata watak yang dipakai dalam arti normatif
-          Kata watak yang dipakai dalam arti deskriptis

Kata watak dalam arti normatif selalu menghubungkan orang-orang dengan norma. Misalnya norma sosial.
Seseorang dikatakan tidak berwatak bila tingkah lakunya tidak sesuai   dengan norma. Dia memang cerdik, tetapi tidak berwatak. Memang yang paling lazim justru ini, watak selalu berhubungan dengan norma. Jadi jika kita bermaksud mengenakan norma-norma pada tingkah laku orang, artinya bila kita mengadakan penilaian terhadap tingkah laku orang, maka lebih baik kita gunakan istilah watak, tetapi apabila kita tidak bermaksud mengadakan penilaian, tetapi mengadakan gambaran tingkah laku seseorang maka kita gunakan istilah kepribadian. Jadi kalau watak umumnya lebih bersifat normatif, maka kepribadian lebih bersifat deskriptif. Contoh: Kalau kita melukiskan seseorang maka kita akan menggambarkan tentang sifatnya.
3.     Definisi kepribadian.
Ada banyak sekali tentang definisi kepribadian, tetapi yang paling baik dalah definisi dari Allport; Kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas, jiwa tubuh dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan.

Penjelasan:
a.    Pernyataan “organisasi dinamis” menunjukkan bahwa kepribadian itu selalu berkembang dan berubah, walaupun ada sistem organisasi yang mengikat  dan menghubungkan berbagai komponen daripada kepribadian.
b.    Istilah “Psikofisis” menujukkan bahwa kepribadian itu bukan semata-mata jiwa, tetapi juga bukan semata-mata tubuh atau syaraf. Oleh karena itu organisasi kepribadian melingkupi kerja tubuh dan jiwa tak terpisah-pisah dalam suatu kepribadian.
c.    “Menentukan” itu menunjukkan bahwa kepribadian mengadung tendens-tendens determinasi atau kecenderungan yang menentukan/yang memainkan peranan aktif dalam memainkan individu.
d.    Kata “khas/unik”, unigue=tidak ada duanya, itu mempunyai arti tidak ada dua orang yang benar-benar sama dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan atau dengan kata lain tidak ada dua orang yang mempunyai kepribadian yang sama.
e.    “Menyesuaikan diri dengan lingkungan”. Artinya kepribadian mengantarai individu dengan lingkungan fisis dan psikologisnya. Jadi kepribadian adalah sesuatu yang mempunyai fungsi arti adaptasi & menentukan.

4.     Tempramen.
Adalah sifat jiwa yang sangat erat hubungannya dengan faktor jasmani orang, oleh karena itu sulitlah diubah/dimodifikasi.

B. Psikologi Kepribadian dalam Sistematika Psikologi
Psikologi diakui sebagai ilmu yang berdiri sendiri pada tahun 1879 ketika Wilhelm Wundt mendirikan laboratorium psikologi di Leipzig, Jerman. Labo-ratorium ini merupakan laboratorium psikologi yang pertama di dunia. Setelah itu psikologi mengalami perkembangan yang pesat, yang ditandai dengan lahirnya bermacam-macam aliran dan cabang. Aliran-aliran psikologi lahir karena adanya pemahaman dan keyakinan para ahli yang berbeda-beda dalam memandang manusia. Aliran-aliran yang berkembang dalam bidang psikologi diantaranya : strukturalisme, fungsionalisme, behaviorisme, psikologi gestalt, psikologi dalam, psikologi humanistik, dst. Sedangkan cabang-cabang psikologi berkembang sebagai hasil dari pengkajian perilaku manusia ditinjau dari sudut pandang tertentu.
Cabang-cabang psikologi diantaranya :
-      psikologi perkembangan,
-      psikologi pendidikan,
-      psikologi sosial,
-      psikologi kepribadian,
-      psikologi abnormal,
-      psikologi kesehatan,
-      psikologi olah raga, dst.

Psikologi kepribadian, sama halnya dengan cabang-cabang lainnya dari psikologi, memberikan sumbangan yang berharga bagi pemahaman tentang manusia melalui kerangka kerja psikologi secara ilmiah. Yang membedakan psikologi kepribadian dengan cabang-cabang lainnya adalah usahanya untuk mensintesiskan dan mengintegrasikan prinsip-prinsip yang terdapat dalam bidang-bidang psikologi lain tersebut. Dalam bidang psikologi tidak ada satu bidangpun yang memiliki daerah yang demikian luas seperti psikologi kepribadian (Koeswara, 1991 : 4).


C. Urgensi Psikologi Kepribadian dalam Pendidikan
Psikologi kepribadian merupakan pengetahuan ilmiah. Sebagai pengetahuan ilmiah, psikologi kepribadian menggunakan konsep-konsep dan metoda-metoda yang terbuka bagi pengujian empiris. Penggunaan konsep-konsep dan metoda-metoda ilmiah dimaksudkan agar psikologi kepribadian bisa mencapai sasarannya, yaitu : pertama, memperoleh Informasi mengenai tingkah laku manusia dan kedua, mendorong individu-individu agar bisa hidup secara penuh dan memuaskan (Koeswara,1991: 4).
Usaha untuk memperoleh pemahaman mengenai perilaku manusia bukan hanya dimaksudkan untuk melampiaskan hasrat ingin tahu saja tetapi juga diharapkan bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup manusia. Pengetahuan mengenai perilaku individu-individu beserta faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku tersebut hendaknya dapat dimanfaatkan dalam kegiatan terapan atau praktik seperti psikoterapi dan program-program bimbingan, latihan dan belajar yang efektif, juga melalui perubahan lingkungan psikologis sedemikian rupa agar individu-individu itu mampu mengembangkan segenap potensi yang dimiliki secara optimal (Koeswara,1991 : 4-5).
Interaksi yang terjadi antara pendidik dan peserta didik dalam proses pendidikan merupakan interaksi di mana pihak pendidik berusaha mempengaruhi peserta didik agar peserta didik dapat berkembang secara optimal. Untuk mewujudkan keinginan tersebut pendidik harus membekali dirinya dengan seperangkat persyaratan, diantaranya adalah pemahaman mengenai perilaku manusia, baik tentang dirinya sendiri (self understanding) maupun orang lain, khususnya peserta didik (understanding the other). Tanpa disertai dengan pemahaman yang baik tentang perilaku manusia atau tepatnya kepribadian, akan sulit mewujudkan interaksi edukatif. Dalam profesi bimbingan dan konseling, khususnya di sekolah, pemahaman mengenai perilaku manusia melalui psikologi kepribadian merupakan kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Pemahaman kepribadian diperlukan oleh pendidik atau konselor untuk :
1. acuan dalam mengembangkan kepribadiannya agar mengarah ke kepribadian pendidik atau konselor ideal;
2. mempermudah dalam mengenal karakteristik peserta didik;
3. acuan dalam pengembangan berbagai potensi peserta didik;
4. acuan dalam mengambil tindakan preventif;
5. acuan dalam membimbing peserta didik ke arah kedewasaan;
6. menghindari terjadinya konflik antara guru / konselor dengan pesert didik / klien.















BAB II
KEPRIBADIAN

A.   Pengertian Kepribadian
1. Tinjauan secara Etimologis
Istilah kepribadian dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan personality. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu persona, yang berarti topeng dan personare, yang artinya menembus. Istilah topeng berkenaan dengan salah satu atribut yang dipakai oleh para pemain sandiwara pada jaman Yunani kuno. Dengan topeng yang dikenakan dan diperkuat dengan gerak-gerik dan apa yang diucapkan, karakter dari tokoh yang diperankan tersebut dapat menembus keluar, dalam arti dapat dipahami oleh para penonton. Dari sejarah pengertian kata personality tersebut, kata persona yang semua berarti topeng, kemudian diartikan sebagai pemainnya sendiri, yang memainkan peranan seperti digambarkan dalam topeng tersebut. Dan sekarang ini istilah personality oleh para ahli dipakai untuk menunjukkan suatu atribut tentang individu, atau untuk menggambarkan apa, mengapa, dan bagaimana tingkah laku manusia.
Understanding the Dark Triad          How to Manage Passive Aggressive People
© iStockphoto                                                             © iStockphoto
 ElenaSeychelles                                                              Mhoo1990
2. Definisi-definisi Kepribadian
Banyak ahli yang telah merumuskan definisi kepribadian berdasarkan paradigma yang mereka yakini dan focus analisis dari teori yang mereka kembangkan. Dengan demikian akan dijumpai banyak variasi definisi sebanyak ahli yang merumuskannya. Berikut ini dikemukakan beberapa ahli yang definisinya dapat dipakai acuan dalam mempelajari kepribadian.

a. GORDON W. W ALLPORT
Pada mulanya Allport mendefinisikan kepribadian sebagai “What a man really is.” Tetapi definisi tersebut oleh Allport dipandang tidak memadai lalu dia merevisi definisi tersebut (Soemadi Suryabrata, 2005:240) Definisi yang kemudian dirumuskan oleh Allport adalah: “Personality is the dynamic organization within the individual of those psychophysical systems that determine his unique adjustments to his environment”.
Pendapat Allport di atas bila diterjemahkan menjadi : Kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.

b. KRECH dan CRUTCHFIELD
David Krech DAN Richard S. Crutchfield (1969) dalam bukunya yang berjudul Elements of Psychology merumuskan definsi kepribadian sebagai berikut : “Personality is the integration of all of an individual’s characteristics into a unique organization that determines, and is modified by, his attemps at adaption to his continually changing environment.” (Kepribadian adalah integrasi dari semua karakteristik individu ke dalam suatu kesatuan yang unik yang menentukan, dan yang dimodifikasi oleh usaha-usahanya dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang berubah terus-menerus)

c.  ADOLF HEUKEN, S.J. dkk.
Adolf Heuken S.J. dkk. dalam bukunya yang berjudul Tantangan Membina Kepribadian (1989 : 10), menyatakan sebagai berikut.
“Kepribadian adalah pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang, baik yang jasmani, mental, rohani, emosional maupun yang sosial. Semuanya ini telah ditatanya dalam caranya yang khas di bawah beraneka pengaruh dari luar. Pola ini terwujud dalam tingkah lakunya, dalam usahanya menjadi manusia sebagaimana dikehendakinya”.
Berdasarkan definisi dari Allport, Kretch dan Crutchfield, serta Heuken dapat disimpulkan pokok-pokok pengertian kepribadian sebagai berikut.
·    Kepribadian merupakan kesatuan yang kompleks, yang terdiri dari aspek psikis, seperti : inteligensi, sifat, sikap, minat, cita-cita, dst. serta aspek fisik, seperti : bentuk tubuh, kesehatan jasmani, dst.
·    Kesatuan dari kedua aspek tersebut berinteraksi dengan lingkungannya yang mengalami perubahan secara terus-menerus, dan terwujudlah pola tingkah laku yang khas atau unik.
·    Kepribadian bersifat dinamis, artinya selalu mengalami perubahan, tetapi  dalam perubahan tersebut terdapat pola-pola yang bersifat tetap.
·     Kepribadian terwujud berkenaan dengan tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh individu.

B. Konsep-konsep yang berhubungan dengan Kepribadian
Ada beberapa konsep yang berhubungan erat dengan kepribadian bahkan kadang-kadang disamakan dengan kepribadian. Konsep-konsep yang berhubungan dengan kepribadian adalah (Alwisol, 2005 : 8-9) :

1. Character (karakter), yaitu penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai (banar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit.
2. Temperament (temperamen), yaitu kepribadian yang berkaitan erat dengan determinan biologis atau fisiologis.
3. Traits (sifat-sifat), yaitu respon yang senada atau sama terhadap sekolompok stimuli yang mirip, berlangsung dalam kurun waktu (relatif) lama.
4. Type attribute (ciri), mirip dengan sifat, namun dalam kelompok stimuli yang lebih terbatas.
5. Habit (kebiasaan), merupakan respon yang sama dan cenderung berulang untuk stimulus yang sama pula.

Konsep-konsep di atas sebenarnya merupakan aspek-aspek atau komponen-komponen kepribadian karena pembicaraan mengenai kepribadian senantiasa mencakup apa saja yang ada di dalamnya, seperti karakter, sifat-sifat, dst. Interaksi antara berbagai aspek tersebut kemudian terwujud sebagai kepribadian.

C. Usaha-usaha Mempelajari Kepribadian
Usaha-usaha untuk mengerti perilaku atau menyingkap kepribadian manu-sia sudah lama dilakukan dimulai dengan cara yang paling sederhana, yang tergolong pendekatan nonilmiah, sampai dengan cara-cara modern atau pendekatan ilmiah.
   Dari cara-cara yang sangat sederhana lahirlah pengetahuan-pengetahuan yang bersifat spekulatif, dalam arti kebenarannya tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Ada beberapa pengetahuan yang menjelaskan kepribadian secara spekulatif. Pengetahuan seperti ini disebut juga ilmu semu (pseudo science). Yang termasuk ilmu-ilmu semu antara lain sebagai berikut (Sumadi Suryabrata, 2005: 7-8).
1.  Chirologi, yaitu pengetahuan yang berusaha mempelajari kepribadian manusia berdasarkan gurat-gurat tangan.
2.  Astrologi, adalah pengetahuan yang berusaha menjelaskan kepribadian atas dasar dominasi benda-benda angkasa terhadap apa yang sedang sedang terjadi di alam, termasuk waktu kelahiran seseorang.
3.  Grafologi, merupakan pengetahuan yang berusaha menjelaskan kepri-badian atas dasar tulisan tangan.
4.  Phisiognomi, adalah pengetahuan yang berusaha menjelaskan  kepriba-dian atas dasar keadaan wajah.
5.  Phrenologi, merupakan pengetahuan yang berusaha menjelaskan kepri-badian berdasarkan keadaan tengkorak.
6.  Onychology, pengetahuan yang berusaha menjelaskan kepribadian atas dasar keadaan kuku.

Cara mempelajari kepribadian yang dipandang lebih maju (Sumadi Suryabrata, 2005 : 11) menghasilkan bermacam-macam tipologi. Sedangkan usaha mempelajari kepribadian dengan pendekatan ilmiah menghasilkan bermacam-macam teori kepribadian.





















BAB III
TIPOLOGI

A. Pengertian Tipologi
Telah dipaparkan didepan, bahwa usaha-usaha untuk memahami dan mnyingkap perilaku dan kepribadian manusia antara lain menghasilkan pengetahuan yang disebut tipologi. Tipologi adalah pengetahuan yang berusaha menggolongkan manusia menjadi tipe-tipe tertentu atas dasar faktor-faktor tertentu, misalnya karakteristik fisik, psikis, pengaruh dominant nilai-nilai budaya, dst.

B. Macam-macam tipologi.
1. Tipologi Konstitusi
Tipologi konstitusi merupakan tipologi yang dikembangkan atas dasar aspek jasmaniah. Dasar pemikiran yang dipakai para tokoh tipologi konstitusi adalah bahwa keadaan tubuh, baik yang tampak berupa bentuk penampilan fisik maupun yang tidak tampak, misalnya susunan saraf, otak, kelenjar-kelenjar, darah, dts., menentuan ciri pribadi seseorang. Ada beberapa ahli yang telah mengembangkan tipologi konstitusi, diantaranya : Hippocrates dan Gelenus, De Giovani, Viola, Sigaud, Sheldon, dst. Uraian berikut hanya menyajikan beberapa tipologi konstitusi.

a. Tipologi Hippocrates Gallenus
Tipologi ini dikembangkan Gallenus berdasarkan pemikiran Hippocates. Hippocrates (460-370 Sm) terpengaruh oleh pandangan Empedocles, bahwa alam semesta beserta isinya ini tersusun dari 4 unsur dasar yaitu : tanah (kering), air (basah), udara (dingin), dan api (panas).
Berdasarkan pandangan Empedocles tersebut, selanjutnya Hippocrates menyatakan bahwa bahwa di dalam tubuh setiap orang terdapat 4 macam cairan yang memiliki sifat seperti keempat unsur alam. yaitu :
a. sifat kering dimiliki oleh chole atau empedu kuning,
b. sifat basah dimiliki oleh melanchole atau empedu hitam,
c. sifat dingin terdapat pada phlegma atau lendir,
d. dan sifat panas dimiliki oleh sanguis atau darah.

Menurut Hippocrates, keempat jenis cairan ini ada dalam tubuh dengan proporsi yang tidak selalu sama antara individu satu dengan lainnya. Dominasi salah satu cairan tersebut yang menyebabkan timbulnya ciri-ciri khas pada setiap orang.
Galenus ( 129- 199 sM ) sependapat dengan Hippocrates, bahwa di dalam tubuh setiap orang terdapat 4 macam cairan tersebut. Selanjutnya Galenus menyatakan bahwa cairan-carairan tersebut berada dalam tubuh manusia dalam proporsi tertentu. Dominasi salah satu cairan terhadap cairan yang lain mengakibatkan sifat-sifat kejiwaan yang khas. Sifat-sifat kejiwaan yang khas ada pada seseorang sebagai akibat dominannya salah satu cairan tubuh tersebut oleh Galenus disebutnya temperamen (Sumadi Suryabrata (2005 : 12). Pandangan Hippocrates yang kemudian dilengkapi oleh Galenus selanjutnya disebut tipologi Hippocrates Galenus dapat disajikan secara ringkas pada tabel berikut (Sumadi Suryabrata, 2005: 13).


TABEL 1
TIPOLOGI HIPPOCRATES GALENUS

CAIRAN TUBUH YANG DOMINAN

PRINSIP
T I P E
SIFAT-SIFAT KHAS
Chole
Tegangan
Choleris
· Penuh semangat
· Optimistis, daya juag besar
· Emosional
· Keras hati, mudah terbakar
Melanchole
Penegaran
(rigidity)
Melancholis
· Pemuram, mudah kecewa
· Daya juang lemah
· Mudah kecewa
· pesimistis
Phlegma
Plastisitas
Phlegmatis
· Berpenampilan tenang,kalem
· Berpendirian kuat
· Setia, tidak mudah dipengaruhi
· Tidak emosional
Sanguis
Ekspansivitas
Sanguinis
· Bersemangat,
·   Bergairah
· Ramah
· Mudah berubah pendirian


b. Tipologi Konstitusi Mazab Italia
          Muncul sekitar abad 19 dengan tokoh utama DE-GIOVANI dan VIOLA
1.    Teori De-Giovani: Hukum deformasi-menurut dia ada tiga macam tubuh manusia:
a)   Orang dengan togok (jawagembung, Inggris trunk) kecil, cenderung mempunyai bentuk tubuh yang panjang.
b)   Orang dengan togok besar cenderung mempunyai bentuk tubuh pendek
c)   Orang dengan togok normal cenderung untuk mempunyai proporsi badan yang normal.
2.    Tipologi Viola
Viola, seorang ahli dari Italia, mengemukakan tipologi yang didasarkan pada bentuk tubuh sebagaimana telah dilakuakn penelitian oleh De Giovani. Atas dasar aspek tersebut Viola mengemukakan tiga golongan atau tipe bentuk tubuh manusia (Sumadi Suryabrata,200518), yaitu :
1)  Tipe Microsplanchnis, yaitu bentuk tubuh yang ukuran menegaknya lebih dari pada perbandingan biasa, sehingga yang bersangkutan kelihatan jangkung.
2) Tipe Macrosplanchnis, yaitu bentuk tubuh yang ukuran mendatarnya lebih dari pada perbandingan biasa, sehingga yang bersangkutan kelihatan pendek.
3) Tipe Normosplanchnis, yaitu bentuk tubuh yang ukuran menegak dan mendatarnya selaras, sehingga tubuh kelihatan selaras pula.

CATATAN: RAVA, seorang pengikut mazab Italia menerangkan,bahwa:
-        Penderita neurasthenia dan psychasthenia kebanyakan bertipe microsplanchnis. Misal: orang sakit pada daerah tertentu, tetapi setelah diperiksa tenyata tidak ada apa-apa.
-        Penderita manis/manic-depressif kebanyakan terdapat pada tipe macrosplanchnis. Misal; orang gila (da saat-saat ngamuk juga ada saat-saat depresif/sedih).

c. Tipologi Sigaud,
Sigaud seorang ahli psikologi dari Perancis, menyusun tipologi manusia berdasarkan 4 macam fungsi tubuh, yaitu : motorik, pernafasan, pencernaan, dan susunan saraf sentral. Dominasi salah satu fungsi tubuh tersebut menentukan tipe kepribadian. Atas dasar pandangan di atas kemudian Sigaud menggolongkan manusia menjadi 4 tipe, yaitu :
1)   Tipe muskuler
Tipe ini dimiliki oleh orang fungsi motoriknya paling menonjol disbanding fungsi tubuh yang lain, dengan ciri khas : tubuh kokoh, otot-otot berkembangan dengan baik, dan organ-oragan tubuh berkembang secara selaras.
    2)  Tipe respiratoris
Tipe ini ada pada orang yang memiliki fungsi pernafasan yang kuat dengan ciri-ciri : muka lebar serta thorax dan leher besar.
    3) Tipe digestif
     Tipe digestif terdapat pada orang yang memiliki fungsi pencernaan yang kuat dengan ciri-ciri : mata kecil, thorax pendek dan besar, rahang serta pinggang besar.
    4) Tipe cerebral
  Tipe keempat dari tipologi Sigaud ada pada orang yang memiliki susunan saraf sentral yang kuat disbanding fungsi tubuh lainnya dengan ciri-ciri : dahi menonjol ke depan dengan rambut ditengah, mata bersinar, daun telinga lebar, serta kaki dan tangan kecil.

c. Tipologi Sheldon
Sheldon berpendapat bahwa ada tiga komponen jasmaniah yang mempengaruhi bentuk tubuh manusia, yaitu : endomorphy, mesomorphy, dan ectomorphy. Istilah-istilah tersebut oleh Sheldon dikembangkan dari istilah yang berhubungan dengan terbentuknya foetus manusia, lapisan endoderm, mesoderm, dan ectoderm. Menurut Sheldon dominasi dari dari salah satu lapisan tersebut akan menyebabkan kekhasan terhadap bentuk tubuh. Dengan demikian maka ada 3 tipe manusia berdasarkan bentuk tubuhnya, yaitu :
1) Tipe endomorph,
    Tipe endomorph merupakan tipe yang disebabkan oleh dominannya komponen endomorphy terhadap dua komponen lainnya, ditandai oleh : alat-alat dalam dan seluruh sistem digestif memegang peran penting. Bentuk tubuh tipe ini kelihatan lembut, gemuk, berat badan relatif rendah.
2) Tipe mesomorph
Tipe mesomorph terbentuk oleh karena komponen mesomorphy yang lebih dominan dari koponen lainnya, maka bagian-bagian tubuh yang berasal dari mesoderm relatif berkembang lebih baik, yang ditandai dengan otot-otot, pembuluh darah, dan jantung dominan. Bentuk tubuh tipe mesomorph kelihatan kokok dan keras.
3) Tipe ectomorph
    Pada tipe ini organ-organ yang berasal dari ectoderm (kulit dan sistem syaraf) yang terutama berkembang. Bentuk tubuh tipe ectomorph terlihat jangkung, dada kecil dan pipih, lemah, dan otot-otot tidak berkembang.

2. Tipologi Temperamen
Tipologi temperamen merupakan tipologi yang disusun berdasarkan karakteristik segi kejiwaan. Dasar pemikiran yang dipakai para tokoh yang mengembangkan tipologi temperamen adalah bahwa berbagai aspek kejiwaan seseorang seperti : emosi, daya pikir, kemauan, dst. Menentukan karakteristik yang bersangkutan. Yang tergolong tipologi jenis ini antara lain : tipologi Plato, tipologi Immanual Kant, tipologi Bhsen, Tipologi Heymans, dst.

a. Tipologi Plato
Menurut Plato kemampuan jiwa manusia terdiri dari 3 macam, yaitu pikiran, kemauan,dan hasrat. Dominasi salah satu kemampuan inilah yang menyebabkan kekhasan pada diri manusia. Atas dasar hal ini Plato menggolongan manusia ke dalam 3 tipe yaitu sebagai berikut.
1) Tipe manusia yang terutama dikuasai oleh pikirannya, yang sesuai untuk menjadi pemimpin dalam pemerintahan.
2) Tipe manusia yang terutama dikuasai oleh kemauannya, sesuai untuk menjadi tentara.
3) Tipe manusia yang dikuasai oleh hasratnya, cocok menjadi pekerja tangan.

b. Tipologi Heymans
Heymans menyatakan bahwa manusia memiliki tipe kepribadian yang bermacam-macam, namun dapat digolongkam menjadi delapan tipe atas dasar kualitas kejiwaannya, yaitu : (1) emosionalitas, mudah tidaknya perasaan terpengaruh oleh kesan-kesan; (2) proses pengiring, yaitu kuat lemahnya kesan-kesan ada dalam kesadaran setelah faktor yang menimbulkan kesan-kesan tersebut tidak ada; dan (3) aktivitas, adalah banyak sedikitnya peristiwa-peristiwa kejiwaan menjelma menjadi tindakan nyata.
Masing-masing kualitas kejiwaan tersebut secara teoritis dibedakan menjadi dua macam, kuat dan lemah. Atas dasar hal ini menggolongan tipe manusia menjadi delapan sebagaimana disajikan dalam tabel berikut ini (Sumadi Suryabrata, 2005: 86).
TABEL 2
IKHTISAR TIPOLOGI HEYMANS

NO
EMOSIONALITAS
PROSES
PENGIRING
AKTIVITAS
TIPE

1`
emosional ( +
kuat ( + )
aktif ( + )
Gepasioner/hebat
2
emosional ( +
kuat ( + )
pasif ( - )
Sentimentil
3
emosional ( +
lemah ( - )
aktif ( + )
Kholeris
4
emosional ( +
lemah ( - )
pasif ( - )
Nerveus
5
tidak emosional
kuat ( + )
aktif ( + )
Flegmatis
6
tidak emosional
kuat ( + )
pasif ( - )
Apatis
7
tidak emosional
lemah ( - )
aktif ( + )
Sanguinis
8
tidak emosional
lemah ( - )
pasif ( - )
Amorph

Untuk memperjelas serta memudahkan memahami tipologi yang dikembangkannya, Heymans memberikan gambar grafik yang berupa kubus (Sumardi Suryabrata, 1982 : 82 – 85). Ketiga ukuran (tinggi, lebar, dan panjang) itu menunjukkan sifat-sifat dasar dari penggolongan itu. 

1.    Emosionalitas (emotonaliteit)
Yaitu mudah tidaknya perasaan seorang terpengaruh oleh kesan-kesan. Pada dasarnya semua orang mempunyai kemampuan ini namun tidak sama kuatnya, dapat dibagi dua golongan:
a.   Golongan emosional (emosionalnya kuat/tringgi) sifatnya antara lain:
·          impulsif (mudah meledak), mudah marah & gembira
·          perhatian kurang mendalam
·          tidak suka tenggang-menenggang
·          kurang praktis (ngotot)
·          ingin berkuasa
·          dapat dipercaya dalam soal keuangan.

b.   Golongan yang tidak emosional (emosionalnya rendah/tumpul). Sifatnya antara lain:
·          berhati dingin
·          zakelijk (apa adanya)
·          berhati-hati dalam menentukan pendapat
·          praktis, suka tenggang-meneggang
·          jujur dalam batas-batas hukum
·          pandai dalam menahan nafsu birahi
·          suka memberi kebebasan kepada orang lain.


2.     Proses pengiring (fungsi primair + skundair).
Proses pengiring yaitu kuat lemahnya kesan-kesan yang ada dalam kesadaran setelah faktor yang menimbulkan kesan-kesan tersebut tidak ada dalam kesadaran. Ada 2 golongan dalam proses pengiring, yaitu:
a.    Golongan yang proses pengiringnya kuat (fungsi skundair). Sifatnya antara lain:
·      tenang, tidak lekas putus asa
·      bijaksana
·      suka menolong
·      ingatannya baik
·      berfikirnya bebas
·      teliti dan konskwen
·      dalam politik biasanya moderat/konservatif (kuno).

b.    Golongan yang proses pengiringnya lemah (fungsi primair). Sifatnya antara lain:
·      tidak tenang
·      lekas putus asa
·      ingatannya kurang baik
·      tidak hemat
·      tidak teliti
·      tidak konskwen
·      suka membeo
·      dalam politik radikal (suaranya keras)
·      egoistis


3.     Aktivitas.
Menurut Heymans yang disebut aktivitas adalah banyak sedikitnya orang menyatakan diri,  atau peristiwa-peristiwa kejiwaan menjelma menjadi tindakan nyata. Ada 2 golongan, yaitu:
a.    Golongan aktif (karena alasan sedikit saja sudah berbuat), sifatnya antara lain:
·      suka bergerak (selalu ada sesuatu yang dikerjakan/sibuk)
·      riang gembira
·      tidak kuat menentang penghalang
·      mudah mengerti
·      praktis
·      loba akan uang (asal ada manfaatnya berusaha kerja keras/produktif)
·      pandangan luas
·      setelah bertengkar mudah berdamai
·      suka tenggang-menenggang.

b.    Golongan yang tidak aktif (walaupun sudah ada alasan yang kuat belum juga bertindak). Sifat-sifatnbya antara lain:
·      lekas mengalah
·      lekas putus asa, segala soal dipandang berat
·      perhatian kurang mendalam
·      tidak praktis (gagasannya beraneka)
·      suka membeo
·      nafsu birahinya lekas menggelora (seknya berbahaya)
·      boros
·      segan membuka hati.

Dengan dasar 3 kategori tentang tenpramen, yang masing-masing terdiri atas dua golongan maka Heymans sampai kepada 2 x 2 x 2 atau 8 (tipe) secara ikhtisar, lihat dibawah ini:

                                                                                                           aktif
                                                              pros. peng kuat
                                                                                                 tak aktif         
                          emosional                                                       aktif                                                                 
                                                              pros. peng lemah
                                                                                                 tak aktif

Kepribadian                                  
                                                                                                aktif 
                                                              pros. peng kuat
                                                tak emosional                                            tak aktif                     
                                                                                                                  aktif                     
                                                                   pros. peng lemah
                                                                                                                  tak aktif
                                                                   














                                                                    
                                                               EMOSIONALITAS
                                                                                                                        

                                                 TIPE SENTIMENTIL                       TIPE GEPASIONER              
                                                            2                                         1                                                                                                 
              TIPE NERVEUS    4                                                       3   TIPE KHOLERIS


 
                                                                                                    AKTIVITAS
                    PROSES PENGIRING 








 
                                     TIPE APATIS      6                   TIPE FLEGMATIS 5








 
            



 
             TIPE AMORPH  8                                                 7 TIPE SANGUINIS

Gambar  : KUBUS HEYMANS

Keterangan:
Anak  panah menunjukkan arah dimana prinsip-prinsip atau kategori-kategori dasar itu membesar.
_ Garis-garis tegak menggambarkan emosionalitas (makin bertambah ke atas).
_ Garis-garis mendatar menunjukkan aktivitas (semakin kekanan).
_ Garis-garis dari muka kebelakang menunjukkan proses pengiring (semakin ke belakang).

Bidang atas       : tempat kedudukan emsionalitas maksimal 
Bidang bawah   : tempat kedudukan emsionalitas minimal
Bidang belakang : tempat kedududkan proses pengiring maksimal
Bidang depan    : tempat kedududkan proses pengiring minimal
Bidang kanan    : tempat kedudukan aktivitas maksimal 
Bidang kiri         :  tempat kedudukan aktivitas minimal                              

Teori Heymans disusun bukan atas dasar pemikiran spekulatif tetapi atas dasar data-data empiris. Data yang dianalisis Heymans adalah sebagai berikut (Sumadi Suryabrata, 2005: 82-83).
1) Bahan biografis : 110 biografi orang-orang yang berbeda waktu hidupnya,  tempat tinggalnya, dan kebangsaannya.
2) Keturunan mengenai 458 keluarga yang terdiri dari 2523 orang. Keterangan mengenai murid-murid sekolah : 3938.
3)   Hasil penelitian laboratorium.


3. Tipologi Berdasarkan Nilai-nilai Kebudayaan
Tipologi berdasarkan nilai-nilai kebudayaan dikembangkan oleh Eduard Spranger. Spranger menyatakan bahwa kebudayaan (culture) merupakan sistem nilai, karena kebudayaan itu tidak lain adalah kumpulan nilai-nilai budaya yang tersusun atau diatur menurut struktur tertentu.
Pokok-pokok pemikiran Spranger mengenai kepribadian manusia adalah subagai berikut:
a.     Dua macam rokh (Geist)
Ia membedakan ada dua macam rokh, yaitu;
1)   Roh subyektif atau rokh individual (subyektif geist, individual geist)
Yaitu rokh yang terdapat pada manusia individu, tentang rokh subyektif ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
-        Roh individual merupakan bagian daripada kebudayaan. Kebudayaan lebih tinggi daripada roh individu.
-        Roh individual itu bertujuan, tujuannya adalah mewujudkan nila-nilai tertentu dan nilai-nilai ini berada dalam sistem nilai, dan dalam sistim nilai inilah adalah roh obyektif yang lebih tinggi daripada roh individual dan terdapat didalam kebudayaan.

Catatan:
Nilai adalah sesuatu yang dijunjung tinggi oleh masyarakat tertentu (nilai gotong royong, nilai cinta kasih, kekuasaan, politik, ekonomi, agama dll).

2). Rokh Obyektif (supra individual atau roh kebudayaan).
Rokh obyektif adalah roh seluruh umat manusia yang didalam kongkritanya merupakan kebudayaan.

b.     Hubungan antara rokh subyektif dan rokh obyektif.
Kedua rokh itu berhubungan secara timbal balik. Roh individual (artinya roh individual mengandung nilai-nilai yang terdapat pada masing-masing individu, dipupuk dan dikembangkan berpedoman pada roh obyektif).
Roh obyektif/kebudayaan itu mengandung unsur-unsur yang telah mendapat/mengandung pengakuan umum sebagi hal-hal yang bernilai. Oleh karena itu diberi kehidupan lebih tinggi daripada roh subyektif.
Tiap individu tidak dapat melepaskan diri dari roh obyektif. Demikian pula roh obyektif tidap dapat meremehkan roh subyektif, oleh karena indivudu-individulah yang menciptakan roh obyektif selama berabad-abad, bahkan roh obyektih atau kebudayaan akan lenyap sekiranya individu-individunya tidak mendukungnya. Manusia adalah pendukung roh obyektif atau subyektif.

c.     Lapangan-lapangan Hidup.
Kebudayaan (kultur) tidak lain sebagai sistem (kumpulan nilai-lai) yang  oleh Spranger di golongkan menjadi 6 bidang (lapangan nilai) yang secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua kelopok, yaitu :
1)      Bidang-bidang (lapangan-lapangan nilai) yang berhubungan dengan manusia sebagai individu,  yang didalamnya terdapat 4 nilai budaya :
a) Lapangan pengetahuan/teori/ilmu
b) Lapangan ekonomi ekonomi/nilai ekonomi
c) Lapangan seni/ nilai kesenian
d) lapangan keagamaan/nilai keagamaan
    
 2) Bidang-bidang (lapangan nilai) yang berhubungan dengan manusia sebagai anggota masyarakat, yang didalamnya terdapat 2 nilai budaya :
a) Lapangan sosial/kemasyarakatan
b) Lapangan politik/kekuasaan.

d. Enam tipe manusia
Berdasarkan pendapat bahwa ada 6 nilai kebudayaan yang mempengaruhi hidup setiap individu di mana hanya ada 1 nilai kebudayaan yang pengaruhnya bersifat dominan maka menurut Spranger terdapat 6 tipe manusia jika dilihat dari sistem nilai kebudayaan. Tipe-tipe manusia menurut Spranger secara ringkas dapat disajikan dalam tabel berikut.

TABEL 3
TIPOLOGI ATAS DASAR NILAI-NILAI KEBUDAYAAN

NOMOR
NILAI KEBUDAYAAN
YANG DOMINAN
TIPE
TINGKAH LAKU
DASAR
1.
2.
3
4.
5.
6.


pengetahuan
ekonomi
kesenian
keagamaan
kemasyarakatan
politik

manusia teori
manusia ekonomi
manusia estetis
manusia religius
manusia sosial
manusia kuasa

berpikir
bekerja
menikmati keindahan
memuja
berkorban
berkuasa / memerintah


Keterangan:
1.    Manusia teori.
Ia sangat mengutamakan kebenaran rasional. Tujuan yang dikejar mereka dalah penguasaan ilmu. Dan kehidupan sehari-hari ia adalah pecinta kebenaran, konskwen dan tenang/kalm. Kalau itu seorangayah , maka ia memandang/berpendapat bersendau gurau dengan anak pemborosan waktu dan menghambat studinya.

2.    Manusia ekonomi.
Selalu mempunyai gagasan-gagasan praktis dan kurang memperhatikan bentuk tindakan yang dilakukannya, sebab perhatiannya terutama pada hasil tindakannya. Segala sesuatu dinilai dari segi kegunaannya dan nila ekonomisnya. Biasanya egosentris. Kepentingan sendirilah yang penting dan menaruh perhatian pada orang lain selama masih berguna bagi mereka. Ia mengejar kekayaan, tetapi biasanya rajin/suka bekerja atau tidak ada orang ekonomi yang malas.

3.    Manusia esthetis.
Manusia esthetis menhayati kehidupan tidak sebagai “pemain” tetapi sebagai penonton.
-        Ia seorang impressionis/menghayati/menyerap kehidupan ini secara pasif, tetapi juga dapat sebagai seorang ekspressionis/menciptakan karya-karya seni sebagai ekspresi dari jiwanya.
-        Mereka cenderung individualistis/eksentris
-        Hubungan dengan orang lain kurang awet
-        Apabila ia beragama mungkin rasa keagamaannya akan memuncak dalam bentuk pendewaan terhadap keselarasan alam.
-        Baginya nomor satu adalah keindahan.

4.    Manusia agama (religius).
Adalah manusia yang menjujung tinggi apa yang bisa disebut tuhan. Segala sesuatu diukur diukur dari segi maknanya bagi kehidupan kerohanian.

5.    Manusia sosial.
Sifat utamanya ialah sangat membutuhkan akan “resonansi” (tanggapan, respon, penghargaan) dari orang lain/sesama manusia, untuk hidup diantara manusia serta ingin mengabdi kepada umum. Baginya nilai yangtertinggi adalah cinta kasih terhadap sesamanya manusia baik individu maupun kelompok.

6.    Manusia kuasa.
Selalu mengejar kekuasaan dan semua nilai-nilai yang lain diabdikan bagi pencapaian kekuasaan.



















BAB IV
TEORI-TEORI KEPRIBADIAN

A. Pengertian Teori Kepribadian
Teori merupakan salah satu unsur penting dari setiap pengetahuan ilmiah atau ilmu, termasuk psikologi kepribadian. Tanpa teori kepribadian usaha memahami perilaku dan kepribadian manusia pasti sulit untuk dilaksanakan. Apakah yang dimaksud dengan teori kepribadian ? Menurut Hall dan Lindzey (Koeswara, 2001 : 5), teori kepriadian adalah sekumpulan anggapan atau konsep-konsep yang satu sama lain berkaitan mengenai tingkah laku manusia.

B. Fungsi Teori Kepribadian
Sama seperti teori ilmiah pada umumnya yang memiliki fungsi deskriptif dan prediktif, begitu juga teori kepribadian. Berikut penjelaskan fungsi deskriptif dan prediktif dari teori kepribadian.

1. Fungsi Deskriptif
Fungsi deskriptif (menjelaskan atau menggambarkan) merupakan fungsi teori kepribadian dalam menjelaskan atau menggambarkan perilaku atau kepribadian manusia secara rinci, lengkap, dan sistematis. Pertanyaan-pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana seputar perilaku manusia dijawab melalui fungsi deskriptif.
2. Fungsi Prediktif
Teori kepribadian selain harus bisa menjelaskan tentang apa, mengapa, dan bagaimana tingkah laku manusia sekarang, juga harus bisa memperkirakan apa, mengapa, dan bagaimana tingkah laku manusia di kemudian hari. Dengan demikian teori kepribadian harus memiliki fungsi prediktif

C. Dimensi-dimensi Teori Kepribadian
Setiap teori kepribadian diharapkan mampu memberikan jawab atas pertanyaan sekitar apa, mengapa, dan bagaimana tentang perilaku manusia. Untuk itu setiap teori kepribadian yang lengkap, menurut Pervin (Supratiknya,1995 : 5-6), biasanya memiliki dimensi-dimensi sebagai berikut :
1.     Pembahasan tentang struktur, yaitu aspek-aspek kepribadian yang bersifat relatif stabil dan menetap, serta yang merupakan unsur-unsur pembentuk sosok kepribadian.
2.     Pembahasan tentang proses, yaitu konsep-konsep tentang motivasi untuk menjelaskan dinamika tingkah laku atau kepribadian.
3.     Pembahasan tentang pertumbuhan dan perkembangan, yaitu aneka perubahan pada struktur sejak masa bayi sampai mencapai kemasakan, perubahan-perubahan pada proses yang menyertainya, serta berbagai faktor yang menentukannya.
4.     Pembahasan tentang psikopatologi, yaitu hakikat gangguan kepribadian atau tingkah laku beserta asal-usul atau proses perkembangannya.
5.     Pembahasan tentang perubahan tingkah laku, yaitu konsepsi tentang bagaimana tingkah laku bisa dimodifikasi atau diubah.

D. Anggapan-anggapan Dasar tentang Manusia
Setiap orang, termasuk teoris kepribadian, memiliki anggapan-anggapan dasar (basic assumtions) tertentu tentang manusia yang oleh George Boeree disebut asumsi-asumsi filosofis (Boeree, 2005 : 23). Anggapan-anggapan dasar yang diperoleh melalui hubungan pribadi atau pengalaman-pengalaman sosial ini secara nyata akan mempengaruhi persepsi dan tindakan manusia terhadap sesamanya. Dalam konteks para teoris kepribadian, anggapan-anggapan dasar ini mempengaruhi konstruksi dan isi teori kepribadian yang disusunnya.
Anggapan-anggapan dasar tentang manusia yang mempengaruhi atau mewarnai teori-teori kepribadian adalah sebagai berikut.
1. Kebebasan – ketidak bebebasan
2. Rasionalitas – irasionalitas
3. Holisme – elementalisme
4. Konstitusionalisme – environmentalisme
5. Berubah – tidak berubah
6. Subjektivitas – objektivitas
7. Proaktif – reaktif
8. Homeostatis – heterostatis
9. Dapat diketahui – tidak dapat diketahui

E. Klasifikasi Teori-teori Kepribadian
Dewasa ini telah banyak teori-teori kepribadian untuk memudahkan mempelajari para ahli telah mengklasifikasikan teori-teori tersebut ke dalam beberapa kelompok dengan menggunakan acuan tertentu yaitu paradigma yang dipakai untuk mengembangkannya. Boeree (2005 : 29) menyatakan bahwa ada 3 orientasi atau kekuatan besar dalam teori kepribadian, yaitu :
1. Psikoanalisis beserta aliran-aliran yang dikembangkan atas paradigma yang sama atau hampir sama, yang dipandang sebagai kekuatan pertama.
2.   Behavioristik yang dipandang sebagai kekuatan kedua.
3.   Humanistik, yang dinyatakan sebagai kekuatan ketiga.
BAB V
KEPRIBADIAN MENURUT PARADIGMA PSIKODINAMIKA

A. Pendahuluan
Teori  atau tradisi klinis berangkat dari dua asumsi dasar.
Pertama, manusia adalah bagian dari dunia binatang. Kedua, manusia adalah bagian dari sistem enerji. Kunci utama untuk memahami manusia menurut paradigma psikodinamika adalah mengenali semua sumber terjadinya perilaku, baik itu berupa dorongan yang disadari maupun yang tidak disadari.
Teori psikodinamika ditemukan oleh Sigmund Freud (1856-1939). Dia memberi nama aliran psikologi yang dia kembangkan sebagai psikoanalisis. Banyak pakar  kepribadiannya, seperti : Carl Gustav Jung, Alfred Adler, serta tokoh-tokoh lain  seperti Anna Freud, Karen Horney, Eric Fromm, dan Harry Stack Sullivan. Teori psikodinamika berkembang cepat dan luas karena masyarakat luas terbiasa memandang gangguan tingkah laku sebagai penyakit (Alwisol, 2005 : 3-4).
Ada beberapa teori kepribadian yang termasuk teori psikodinamika, yaitu : psikoanalisis, psikologi individual, psikologi analitis, dan neo freudianisme. Berikut ini dikemukakan pokok-pokok dari teori psikoanalisis, psikologi individual, dan psikologi analitis.

B. Teori Psikoanalisis
Teori Psikoanalisis dikembangkan oleh Sigmund Freud. Psikoanalisis dapat dipandang sebagai teknik terapi dan sebagai aliran psikologi. Sebagai aliran psikologi, psikoanalisis banyak berbicara mengenai kepribadian, khususnya dari segi struktur, dinamika, dan perkembangannya.

1. Struktur Kepribadian
Menurut Freud (Alwisol, 2005 : 17), kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yaitu sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak sadar (unconscious). Sampai dengan tahun 1920an, teori tentang konflik kejiwaan hanya melibatkan ketiga unsur tersebut. Baru pada tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural kepribadian yang lain, yaitu das Es, das Ich, dan das Ueber Ich. Struktur baru ini tidak mengganti struktur lama, tetapi melengkapi gambaran mental terutama dalam fungsi dan tujuannya (Awisol, 2005 : 17).
Freud berpendapat bahwa kepribadian merupakan suatu sistem yang terdiri dari 3 unsur, yaitu: das Es, das Ich, dan das Ueber Ich (dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan the Id, the Ego, dan the Super Ego), yang masing memiliki asal, aspek, fungsi, prinsip operasi, dan perlengkapan sendiri. Ketiga unsur kepribadian tersebut dengan berbagai dimensinya disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 4
STRUKTUR KEPRIBADIAN

No 
UNSUR
DIMENSI
ASAL
ASPEK
FUNGSI
PRINSIP OPERASI
PERLENGKAPAN
1
DAS ES
The Id (insting)
Pembawaan
biologis
Memprtahankan diri/jenis
pleasure principle
refleks proses primer

2
DAS ICH
the Ego
(Aku)
hasil interaksi dengan lingkungan
psikologis

Mengarah-kan individu pada realitas

reality principle
proses skunder

3
DAS UEBER ICH
the Super Ego
Hasil internalisasi nilai-nilai dari figur yang  berpengaruh

sosiologis
- Sebagai pengendali Das Es.
- Mengarah-kan das Es das Ich pada perilaku yang lebih bermoral.

morality principle

Conscien-tia/ Ich ideal




Tingkah laKu manusia merupakan kerjasama dari 3 aspek-aspek tersebut diatas sebagaimana dibawah ini;
1.    Das Es ( the Id)
-     merupakan aspek biologis dari kepribadian (dekat dengan kebutuhan tubuh manusia,
-     merupakan bagian yang orisinil dari kepribadian,
-     dari aspek inilah kedua aspek tumbuh (Das Ich, Das Uber Ich),
-     menurut Freud das Es merupakan realita psikis yang sebenar-benarnya,
-     tidak mempunyai hubungan langsung dengan dunia obyektif (dunia luar),
-     das Es berisi hal-hal yang dibawa sejak lahir termasuk insting,
-     das Es merupakan “reservoir” dari energi psikis yang akan menggerakan das Ich dan das Uber Ich,
-     apabila energi psikis itu meningkat timbulah tegangan, dan tegangan ini menimbulkan pengalaman tidak enak yang oleh das Es tidak akan dibiarkan, das Es tidak ingin pengalaman yang tidak enak,
-     das Es selalu mengejar keenakan/kenikmatan oleh karena itu das Es berusaha mereduksi/mengurangi ketidak enakan,
-     jadi yang menjadi prinsip/pedoman utama dari das Es adalah mengejar kenikmatan dan menghilangkan ketidak nikmatan. Pedoman tersebut disebut “prinsip-prinsip kenikmatan: (lust prinzip, pleasure principle),
-     untuk menghilagkan ketidak nikmatan dan mencapai kenikmatan das Es mempunyai dua cara:
a.     refleks dan reaksi otomatis, seperti misalnya wahing/bersin, berkedip bila mata terkena debu,
b.    proses primair (proses membayangkan/menghayalkan), misalkan: orang lapar membayangkan makanan. Sekalipun demikian tentunya cara pemecahan tidak akan memuaskan.
Kedua cara yang dipakai das Es itu tentunya tidak memuaskan sungguh-sungguh oleh karena orang lapar membutuhkan makan dan tidak cukup hanya menghayalkan makanan, maka perlu ada satu sistem lain yang dapat menghubungkan pribadi/seseorang dengan obyek, dan oleh karena itu orang berusaha menggunakan sistem lain yang disebut das Ich.

2.    Das Ich (the ego)
-        Adalah aspek psikologis dalam kepribadian,
-        timbulnya karena kebutuhan organisme/manusia untuk berhubungan secara baik dengan kenyataan/realitas. Contoh: orang yang lapar energi psikis naik yang mengakibatkan tegangan psikis/stress naik yang menimbulkan ketidak enakan.
-        Untuk itu orang harus dapat membedakan antara khayalan tentang makanan dan makanan yang sungguh-sungguh. Kemampuan untuk membedakan ini disebut proses sekunder.
-        Inilah letak perbedaan pokok antara das Es dan das Ich,
-        das Ich bekerja berpegang pada prinsip kenyataan (reality principle) yang mencari obyek yang tepat untuk mengurangi/mereduksi tegangan yang timbul dalam jiwa seseorang.
-        Dengan menggunakan proses sekundair maka das Ich:
a.    Membedakan gambaran khayalan dari benda yang sungguh-sungguh
b.    Das Ich merencanakan menemukan apa yang dibutuhkan
c.    Kemudian menguji apakah rencana itu berhasil/tidak (reality testing), contoh:orang lapar merencanakan di mana dia bisa memperoleh makanan lalu pergi ketempat tersebut untuk mengetahui apakah rencananya berhasil/cocok dengan kenyataan atau tidak.
-        das Ich dapat dipandang sebagai aspek eksekutif/mengontrol/memerintah daripada kepribadaian, sebab das Ich mengontrol jalan yang ditempuh untuk memilih kebutuhan yang dapat dicapai, serta cara-cara pencapaiannya.
-        das Ich bersal dari das Es dan berperan sebagai pengantara kebutuhan-kebutuhan das Es dengan keadaan lingkungan.

3.    Das Uber Ich (super ego)
-        Merupakan aspek sosiologis dari kepribadian
-        merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional serta cita-cita sosial, sebagaimana yang ditafsirkan orangtua kepada anak-anaknya yang kemudian diajarkan lewat perintah-perintah dan larangan-larangan.
-        Uber Ich lebih meyempurnakan kesenangan seseorang daripada kesenangan yang diperoleh das Es.
-        Unber Ich dapat dianggap pula sebagai aspek moral dari kepribadian karena selalu membimbing orang untuk sesuai dengan nilai-nilai moral.
-        Fungsinya yang pokok adalah menentukan mana yang salah mana yang benar, mana yang pantas mana yang tidak pantas, mana yang susila mana yang tidak susila.
-        Norma moral itu di internalisasikan/dimasukkan kedalam jiwa anak sebagai respon terhadap hadiah/hukuman yang diberikan oleh orangtua danpara pendidik.

                                         Hadiah    : perbuatan baik            merupkan cita-cita masyarakat internal            terbentuklah             Ego Ideal

         Norma moral
                                        Hukuman : perbuatan tidak baik             terbentuklah  consiensia               internal                = kata hati             akan menghukum   anak       kalau melanggar norma.

-        Ego Ideal akan menghadiahkan anak apabila ia berbuat baik/ganjaran internal,
-        fungsi pokok das Uber Ich jika dilihat dalam hubungannya dengan ketiga aspek kepribadian adalah sebagai berikut:
a.     merintangi impuls-impuls das Es terutama impuls seksual & impuls agresif (menyerang, membunuh, menyiksa)
b.    Mendorong das Ich lebih moralistis daripada hanya realistis
c.    Mengejar kesempurnaan.
-        Uber Ich cenderung menentang baik terhadap das Ich maupun das Es hal yang kurang bermoral untuk membuat dunia menurut konsepsi yang Ideal.


2. Dinamika Kepribadian
     a. Distribusi enerji
Dinamika kepribadian, menurut Freud bagaimana energi psikis didistribusikan dan dipergunakan oleh das Es, das Ich, dan das Ueber Ich. Freud menyatakan bahwa enerji yang ada pada individu berasal dari sumber yang sama yaitu makanan yang dikonsumsi. Bahwa enerji manusia dibedakan hanya dari penggunaannya, enerji untuk aktivitas fisik disebut enerji fisik, dan enerji yang dugunakan untuk aktivitas psikis disebut enerji psikis. Freud menyatakan bahwa pada mulanya yang memiliki enerji hanyalah das Es saja. Melalui mekanisme yang oleh Freud disebut identifikasi, energi tersebut diberikan oleh das Es kepada das Ich dan das Ueber Ich. Mekanisme perpindahan energi psikis dari das Es ked as Ich dapat digambarkan sebagai berikut.
1)    MEMUASKAN INSTINK
Menurut Freud ada 3 istilah yang banyak persamaannnya dengan insting:
-        Insting, adalah sumber perangsang somatis dalam yang dibawa sejak lahir
-        Keinginan, merupakan perangsang psikologis
-        Kebutuhan, adalah perangsang jasmani
-       PROSES - PROSES PSIKOLOGIS
-       ENERGI (mengamati, berpikir, mengingat, dst) identifikasi
-       MEMBENTUK PEMILIHAN OBJEK BARU
-       MENGINTEGRASIKAN KE TIGA Anti cathexis ASPEK KEPRIBADIAN (fungsi eksekutif)

c.   Mekanisme pertahanan ego
Menurut Freud, mekanisme pertahanan ego (ego defence mechanism) sebagai strategi yang digunakan individu untuk mencegah kemunculan terbuka dari dorongan-dorngan das Es maupun untuk menghadapi tekanan das Uber Ich atas das Ich, dengan tujuan kecemasan yang dialami individu dapat dikurangi atau diredakan (Koeswara, 1991 : 46).
DAS E
MEKANISME PERPINDAHAN ENERJI
Freud menyatakan bahwa mekanisme pertahanan ego itu adalah mekanisme yang rumit dan banyak macamnya. Berikut ini 7 macam mekanisme pertahanan ego yang menurut Freud umum dijumpai (Koeswara, 2001 : 46-48).

1)   Represi, yaitu mekanisme yang dilakukan ego untuk meredakan kecemasan dengan cara menekan dorongan-dorongan yang menjadi penyebab kecemasan tersebut ke dalam ketidak sadaran.
2)   Sublimasi, adalah mekanisme pertahanan ego yang ditujukan untuk mencegah atau meredakan kecemasan dengan cara mengubah dan   menyesuaikan dorongan primitif das Es yang menjadi penyebab kecemasan ke dalam bentuk tingkah laku yang bisa diterima, dan bahkan dihargai oleh masyarakat.
3)   Proyeksi, adalah pengalihan dorongan, sikap, atau tingkah laku yang menimbulkan kecemasan kepada orang lain.
4)   Displacement, adalah pengungkapan dorongan yang menimbulkan kecemasan kepada objek atau individu yang kurang berbahaya dibanding individu semula.
5)   Rasionalisasi, menunjuk kepada upaya individu memutarbalikkan kenyataan, dalam hal ini kenyataan yang mengamcam ego, melalui dalih   yang seakan-akan masuk akal. Rasionalissasi sering dibedakan menjadi dua :sour grape technique dan sweet orange technique.
6)   Pembentukan reaksi, adalah upaya mengatasi kecemasan karena individu memiliki dorongan yang bertentangan dengan norma, dengan cara berbuat sebaliknya.
7)   Regresi, adalah upaya mengatasi kecemasan dengan bertingkah laku yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangannya.

3. Perkembangan Kepribadian
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian
Perkembangan kepribadian individu menurut Freud, dipengaruhi oleh kematangan dan cara-cara individu mengatasi ketegangan. Menurut Freud, kematangan adalah pengaruh asli dari dalam diri manusia.
Ketegangan dapat timbul karena adanya frustrasi, konflik, dan ancaman. Upaya mengatasi ketegangan ini dilakukan individu dengan : identifikasi, sublimasi, dan mekanisme pertahanan ego.

b. Tahap-tahap perkembangan kepribadian
Menurut Freud, kepribadian individu telah terbentuk pada akhir tahun ke lima, dan perkembangan selanjutnya sebagian besar hanya merupakan penghalusan struktur dasar itu. Selanjutnya Freud menyatakan bahwa perkembangan kepribadian berlangsung melalui 6 fase, yang berhubungan dengan kepekaan pada daerah-daerah erogen atau bagian tubuh tertentu yang sensitif terhadap rangsangan. Ke enam fase perkembangan kepribadian adala sebagai berikut (Sumadi Suryabrata, 2005 : 172-173).
1) Fase oral (oral stage): 0 sampai kira-kira 18 bulan
Bagian tubuh yang sensitif terhadap rangsangan adalah mulut.
2) Fase anal (anal stage) : kira-kira usia 18 bulan sampai 3 tahun.
Pada fase ini bagian tubuh yang sensitif adalah anus.
3) Fase falis (phallic stage) : kira-kira usia 3 sampai 6 tahun.
Bagian tubuh yang sensitif pada fase falis adalah alat kelamin.
4) Fase laten (latency stage) : kira-kira usia 6 sampai pubertas
Pada fase ini dorongan seks cenderung bersifat laten atau tertekan.
5) Fase genital (genital stage) :
terjadi sejak individu memasuki pubertas dan selanjutnya. Pada masa ini individu telah mengalami kematangan pada organ reproduksi.

C. Teori Psikologi Individual
1. Pendahuluan
Tokoh yang mengembangkan teori psikologi individual adalah Alfred Adler (1870-1937), yang pada mulanya bekerja sama dengan S. Freud  dll. dalam mengembangkan psikoanalisis. Karena ada perbedaan pendapat yang tidak bisa diselesaikan akhirnya Adler keluar dari organisasi psikoanalisis dan bersama pengikutnya dia mengembangkan aliran psikologi yang dia sebut Psikologi Individual (Idividual Psychology).

2. Konsepsi-konsepsi Psikologi Individual
Menurut Adler manusia itu dilahirkan dalam keadaan tubuh yang lemah. Kondisi ketidak berdayaan ini menimbulkan perasaan inferior (merasa lemah atau tidak mampu) dan ketergantungan kepada orang lain.
Manusia, menurut Adler, merupakan makhluk yang saling tergantung secara sosial. Perasaan bersatu dengan orang lain ada sejak manusia dilahirkan dan menjadi syarat utama kesehatan jiwanya. Berdasarkan paradigma tersebut kemudian Adler mengembangkan teorinya yang secara ringkas disajikan pada uraian berikut.

a. Individualitas sebagai pokok persoalan
Adler menekankan pentingnya sifat khas (unik) kepribadian, yaitu individualitas. Menurut Adler setiap orang adalah suatu konfigurasi/susunan motif-motif, sifat-sifat, serta nilai-nilai yang khas, dan setiap perilakunya menunjukkan corak khas gaya kehidupannya yang bersifat individual.
                                                                    +80


 


                                                                      +40


 
                                            a           c                      d            b


                                                                       -40               

                                                             
                                                            -80
Gambar 2:  Termometer Penilai Diri
  
b. Dua dorongan pokok
Dalam diri setiap individu terdapat dua dorongan pokok, yang mendorong serta melatar belakangi segala perilakunya, yaitu :
1) Dorongan kemasyarakatan, yang mendorong manusia bertindak untuk kepentingan orang lain;
2)  Dorongan keakuan, yang mendorong manusia bertindak untuk kepentingan diri sendiri.

c. Perjuangan menjadi sukses atau ke arah superior
Individu memulai hidupnya dengan kelemahan fisik yang menimbulkan perasaan inferior. Perasaan inilah yang kemudian menjadi pendorong agar dirinya sukses dan tidak menyerah pada inferioritasnya.

d. Gaya hidup (style of life)
Menurut Adler setiap orang memiliki tujuan, merasa inferior, berjuang menjadi superior. Namun setiap orang berusaha mewujudkan keinginan tersebut dengan gaya hidup yang berbedabeda.
Adler menyatakan bahwa gaya hidup adalah cara yang unik dari setiap orang dalam berjuang mencapai tujuan khusus yang telah ditentukan oleh yang  bersangkutan dalam kehidupan tertentu di mana dia berada (Alwisol, 2005 : 97).

e. Minat sosial (social interest)
Adler berpendapat bahwa minat sosial adalah bagian dari hakikat manusia dalam dalam besaran yang berbeda muncul pada tingkah laku setiap orang. Minat sosial membuat individu mampu berjuang mengejar superioritas dengan cara yang sehat dan tidak tersesat ke salah suai. Bahwa semua kegagalan, neurotik, psikotik,
kriminal, pemabuk, anak bermasalah, dst., menurut Adler, terjadi karena penderita kurang memiliki minat sosial.

f. Kekuatan kreatif self (creative power of the self)
Self kreatif merupakan puncak prestasi Adler sebagai teoris kepribadian (Awisol, 2005 : 98). Menurut Adler, self kreatif atau kekuatan kreatif adalah kekuatan ketiga yang paling menentukan tingkah laku (kekutatan pertama dan kedua adalah hereditas dan lingkungan).
Self kreatif, menurut Adler, bersifat padu, konsisten, dan berdaulat dalam struktur kepribadian. Keturunan memberi kemampuan tertentu, lingkungan memberi impresi atau kesan tertentu. Self kreatif adalah sarana yang mengolah fakta-fakta dunia dan menstranformasikan fakta-fakta itu menjadi kepribadian yang bersifat subjektif, dinamis, menyatu, personal dan unik. Self kreatif memberi arti kepada kehidupan, menciptakan tujuan maupun sarana untuk mencapainya.

g. Konstelasi keluarga
Konstelasi/kumpulan berpengaruh dalam pembentukan kepribadian. Menurt Adler, kepribadian anak pertama, anak tengah, anak terakhir, dan anak tunggal berbeda, karena perlakuan yang diterima dari orang tua dan saudara-saudara berbeda.

h. Posisi tidur dan kepribadian
Hidup kejiwaan merupakan kesatuan antara aspek jiwa dan raga dan tercermin dalam keadaan terjaga maupun tidur. Dari observasi yang telah dilakukan terhadap para pasiennya Adler menarik kesimpulan bahwa ada  hubungan posisi tidur seseorang dengan kepribadiannya.
1) Tidur terlentang, menunjukkan yang bersangkutan memilikisifat pemberani dan   bercita-cita tinggi.
2) Tidur bergulung (mlungker), menunjukkan sifat penakut dan lemah dalam mengambil keputusan.
3) Tidur mengeliat tidak karuan, menunjukkan yang bersangkutan memiliki sifat yang tidak teratur, semborno, dst.
4) Tidur dengan kaki di atas bantal, menunjukkan orang ini menyukai petualangan.
5) Tidur dilakukan dengan mudah, berarti proses penyesuaian dirinya baik.

D. TEORI PSIKOLOGI ANALITIS
Pendahuluan
Psikologi analitis merupakan aliran psikologi dinamis yang dikembangkan oleh Carl Gustav Jung (1959-1975). Sama halnya dengan Adler, Jung semula juga merupakan sahabat Freud dan termasuk tokoh terkemuka dalam organisasai psikoanalisis. Dan karena perbedaan pendapat pula keduanya lalu berpisah. Jung kemudian mengembangkan aliran psikologi yang dia beri nama Psikologi Analistis.

POKOK-POKOK TEORI CARL GUSTAV JUNG
1.    Struktur kepribadian
Kepribadian atau psyche (istilah yang dipakai Jung untuk kepribadian) tersusun dari sejumlah sistem yang beroperasi dalam tiga tingkat kesadaran : ego beroperasi pada tingkat sadar, kompleks beroperasi pada tingkat tak sadar pribadi, dan arsetipe beroperasi pada tingkat tak sadar kolektif. Disamping sistem-sistem yang terkait dengan daerah operasinya masing-masing, terdapat sikap jiwa (introvert dan ekstravert) dan fungsi jiwa (pikiran, perasaan, pengidraan, dan intuisi).
Gambar 3 : Struktur kepribadian
                                                         Kesadaran
                                                       
                                                                    Bawah sadar
                                                     Aku


 
                                                     Ketidak Sadaran
                       




                                                            3
                                                             2
                                                                    1
 
                                          4
                                      
Keterangan:
1.    Aku
2.    Kesadaran
3.    ingatan (hal-hal yang terlupa)
4.    komplek terdesak.
a. Struktur Kesadaran
1) Sikap jiwa, adalah arah enerji psikis (libido) yang menjelma dalam bentuk orientasi manusia terhadap dunianya. Sikap jiwa dibedakan menjadi :
a) Sikap ekstrovert
_ libido mengalir keluar
_ minatnya terhadap situasi sosial kuat
_ suka bergaul, ramah, dan cepat menyesuaikan diri
_ dapat menjalin hubungan baik dengan orang lain meskipun ada masalah

Gambar 4 Tipe: Pemikir
                          Pikiran.






 



 
     Pendriaan                                           Intuisi                                                                                    












 


 
                   Perasaan








Gambar 5 Tipe : Perasaan
                       Perasaan.


 



           Intuisi                                           Pendriaan                                                                               












 


 
                      Pikiran.

Gambar 6 Tipe: Pendria


                       Pendriaan.


 



     Perasaan                                           Pikiran                                                                               












 


 

                      Intuitif






Gambar 7 Tipe: Intuitif
                          Intuitif


 



         Pikiran                                            Perasaan                                                                               












 


 
                   Pendriaan.
          
b) Sikap introvert
_ libido mengalir ke dalam, terpusat pada faktor-faktor subjektif
_ cenderung menarik diri dari lingkungan
_ lemah dalam penyesuaian sosial
_ lebih menyukai kegiatan dalam rumah

2) Fungsi jiwa, adalah suatu bentuk aktivitas kjiwaan yang secara teoritis tetap meskipun lingkungannya berbeda-beda.
Fungsi jiwa dibedakan menjadi dua ;
a) Fungsi jiwa rasional, adalah fungsi jiwa yang bekerja dengan penilaian dan terdiri dari :
· pikiran : menilai benar atau salah
· perasaan : menilai menyenangkan atau tak menyenangkan
b) Fungsi jiwa yang irasional, bekerja tanpa penilaian dan terdiri dari :
· pengideraan : sadar indrawi
· intuisi : tak sadar/naluriah
Tabel 5
FUNGSI JIWA MENURUT JUNG
Fungsi Jiwa
Sifatnya
Cara bekerjanya

Pikiran
Perasaan
Pendriaan
Intuisi

Rasional
Rasional
Irasional
irasional
Dengan penilaian benar salah
Dengan penilaian senang atau tak senang
Tanpa penilaian: sadar-indriah
Tanpa penilaian: tak sadar naluriah

Menurut Jung pada dasarnya setiap individu memiliki keempat fungsi jiwa tersebut, tetapi biasanya hanya salah satu fungsi saja yang berkembang atau dominan. Fungsi jiwa yang berkembang paling meonjol tersebut fungsi superior dan menentukan tipe individu yang bersangkutan.
Dengan  mendasarkan pada dua komponen pokok daripada kesadaran itu sampailah Jung pada empat kali dua atau delapan tipe, empat tipe ekstravers dan empat tipe introvers.dalam membuat pencandraan mengenai tipe-tipe tersebut selalu dikupassnya juga kehidupan alam tak sadar, yang baginya merupakan realitas yang sama pentingnya dengan kehidupan alam sadar. Kehidupan alam tak sadar itu berlawanan dengan kehidupan alam sadar. Jadi orang yang kesadarannya bertipe pemikir maka ketidak-sadarannya adalah perasa, orang yang kesadarannya ekstravers ketidak-sadarannya bersifat introvers, begitu selanjutnya. delapan tipe menurut Jung  seperti dibawah ini:





Tabel 6
TIPOLOGI JUNG
Sikap jiwa
Fungsi jiwa
Tipe
Ketidak-sadarannya

Ektravers
pikiran
perasaan
pendriaan
intuitif  
pemikir ekstravers
perasa ekstravers
pendria eksrtavers
intuitif ekstravers
perasa introvers
pemikir introvers
intuitif introvers
pendria introvers
Introvers
pikiran
perasaan
pendriaan
intuitif  
pemikir introvers
perasa introvers
pendria introvers
intuitif introvers
perasa ekstravers
pemikir ekstravers
intuitif ekstravers
pendria ekstravers


Tentu saja perlu diingat bahwa tipe-tipe yang murni seperti digambarkan diatas jarang sekali terdapat dalam kenyataan. Variasi tipe-tipe tersebut kenyataannya lebih banyak daripada yang digambarkan itu; disamping tipe-tipe pokok tersebut dapat dikemukakan tipe-tipe campuran, seperti terlukis pada gambar berikut:
Gambar 8 Tipe: Campuran
                                                           2
                                               1                             3


 


                                          8                                        4













 
                                                                                   5
                                                 7
                                                                     6
Keterangan:
1.    pikiran empiris
2.    pikiran
3.    pikiran intuitif-spekulatif
4.    intuitisi
5.    perasaan intuitif
6.    perasaan
7.    perasaan indriah
8.    pendriaan.

3)    Persona
Apa yang telah dikemukakan itu adalah keadaan kehidupan alam sadar yang sebenarnya; tetapi masih ada suatu hal lagi, yaitu bagaimana orang itu dengan sadar menampakkan diri keluar, karena cara individu dengan sadar menampakkaan diri keluar itu belum tentu kalau sesuai dengan keadaan dirinya yang sebenarnya, dengan individualitasnya. Cara individu dengan sadar menampakkan diri ke luar (ke dunia sekitarnya) itu oleh Jung disebut persona.
Jung sendiri memberi batasan persona sebagai kompleks fungsi-fungsi yang terbentuk atas dasar pertimbangan-pertimbangan penyesuaian atau usaha mencari penyelesaian, tetapi tidak sama dengan individualitas. ”Persona” itu merupakan kompromi antara individu dan masyarakat, antara struktur batin sendiri dengan tuntutan-tuntutan sekitar mengenai bagaimana seharusnya orang berbuat.
Apabila orang dapat menyesuiakan diri ke dunia luar dan dalam dengan baik, maka persona itu akan merupakan selubung yang elastis, yang dengan lancar dapat dipergunakan; akan tetapi kalau penyesuaian itu tidak baik, maka persona merupakan topeng yang kaku beku untuk menyembunyikan kelemahan-kelemahan: misalnya seorang kepala kantor yang sebenarnya kurang mampu mengatur bawahannya di mana berlagak “sok pembesar” untuk menutupi kelemahannya tersebut, sehingga tingkah lakunya menjadi steriotipis dan banyak sekali tak sesuai dengan keadaan. Hal yang dikemukakan dalam contoh ini disebut inflasi.

b.    Struktur Ketidak Sadaran
Ketidak sadaran mempunyai dua lingkaran, yaitu ketidak-sadaran pribadi dan ketidak-sadaran kolektif. Untuk memahami hali ini dapat digambarkan seperti berikut:
                                                                 1                 PS                                      
                                                                 2
                                                                 3
                                                                 4             BS
                                                               
                                                                 5






Keterangan:
1.    Ingatan                                         Ketidak-sadaran pribadi
2.    Hal-hal yang terdesak
3.    Emosi-emosi                                ketidak-sadaran kolektif
4.    “Invasi-invasi
5.    Bagian ketidak sadaran yang tidak pernah dapat dibuat sadar
PS alam prasadar
     BS. Alam bawah sadar
1)        Ketidak sadaran pribadi
Ketidak sadaran pribadi berisikan hal-hal yang diperoleh individu selama hidupnya.
Ini meliputi hal-hal yang terdesak ataun tertekan (“kompleks terdesak”) dan hal-hal yang terlupakan (bahan-bahan ingatan) serta hal-hal yang teramati, terpikir dan terasa dibawah ambang kesadaran. Kecuali itu juga termasuk dalam lingkungan ini apa yang terkenal dengan istilah prasadar dan bawah sadar. Alam prasadar (das Verbenwusste ---- istilah dari Freud) merupakan daerah perbatassan antara ketidak-sadaran pribadi dan kesadaran, dan berisikan hal-hal yang siap masuk ke kesadaran. Alam bawah sadar (das Unveusste) -------- istilah ini berasal dari Dessoir ----- berisikan kejadian-kejadian psikis yang terletak pada daerah perbatasan antara ketidak-sadaran kolektif, seperti misalnya hal-hal yang tidak dapat diingat kembali, hal-hal yang tdk diolah, keadaan transe, dan yang sejenis dengan itu. Kalau digambarkan kesadaran terletak diatas dan ketidak-sadaran dibawah maka dapat dikatakan; alam prasadar pribadi yang paling atas dan yang paling dekat dengan kesadaran, sedangkan alam bawah sadar merupakan batas ketidak-sadaran pribadi yang paling bawah dan paling dekat dengan ketidak-sadaran kolektif.

2)        Keridak-sadaran kolektif
Ketidak sadaran kolektif mengandung isi-isi yang diperoleh selama pertumbuhan jiwa seluruhnya, yaitu pertumbuhan jiwa seluruh jenis manusia, melaui jenis yang terdahulu.ini merupakan endapan cara-cara reaksi kemanusiaan yang khas semenjak zaman dahulu di dalam manusia menghadapi situasi-situasi ketakutan, bahaya, perjuangan, kelahiran, kematian dan sebagainya. Daerah yang paling atas, langsung di bawah ketidak-sadaran pribadi berisikan emosi-emosi dan afek-afek serta dorongan-dorongan primitif; apabila isi-isi manifest orang masih dapat mengontrolnya.
 Daerah dibawahnya lagi berisikan “invasi”, yaitu erupsi dari bagian terdalam daripada ketidak-sadaran serta hal-hal yang sama sekali tak dapat dibuat sadar, manifestasi dari hal-hal ini dialami oleh individu sebagai sesuatu yang asing. Jung sendiri merumuskan ketidak-sadaran kolektif itu sebagai suatu warisan kejiwaan yang besar daripada perkembsngan kemanusiaan, yang terlahir kembali dalam struktur tiap-tiap individu, dan membandingkannya dengan apa yang disebut oleh Levy Bruhl tanggapan mistik kolektif (refresentations collecctive) orang-orangprimitif.
Ketidak-sadaran adalah tidak disadari, lalu bagaimana orang (kesadaran!) dapat mengenalnya atau mengetahuinya. Pengetahuan mengenai ketidak-sadaran itu diperoleh secara tidak langsung, yaitu mengetahu mansfestasi daripada isi-isi ketidak-sadaran itu. Manifestasi ketidak-sadaran itu dapat berbentuk symptom dan kompleks, mimpi, archetypus.

(a)         Symptom dan kompleks
Symptom dan kompleks merupakan gejala-gejala yang masih dapat disadari. Symptom adalah  “gejala dorongan”  daripada jalannya energi yang normal, yang dapat berbentuk symptom kejasmanian maupun kejiwaan. Symptom adalah tanda bahaya, yang memberitahu bahwa ada sesuatu dalam kesadaran yang kurang, dan karenanya perlu perluasan kealam tak sadar.
Kompleks-kompleks adalah bagian kejiwaan kepribadian yang telah terpecah dan lepas dari penilikan (kontrol) kesadaran dan kemudian mempunyai kehidupan sendiri dalam kegelapan alam ketidak-sadaran, yang selalu dapat mengfhambat atau memajukan prestasi-prestasi kesadaran. Kompleks itu terdiri dari unsur inti, yang umumnya tak disadari dan bersifat otonom, serta sejumlah asosiasi-asosiasi yang terbentuk atas dasar inti tersebut; asosiasi itu tergantung kepada disposisi individu beserta pengalaman-pengalamannya.
Banyak sekali kompleks ini mengganggu keseimbangan jiwa. Namun harus diingat bahwa kompleks tidak harus merupakan kekurangan atau kelemahan daripada individu, tetapi hanya merupakan sesuatu dalam kepribadian yang tak dapat dipersatukan, tak dapat diasimilasikan, menjadi pokok konflik, tetapi tidak selalu merupakan rintangan, dapat juga merupakan perangsang untuk usaha yang lebih giat dan karenanya memberi kemungkinan untuk sukses.
Tetapi menurut Jung, kompleks memang dapat merupakan sesuatu dalam kepribadian yang tak dapat diselesaikan; dalam hal ini jelas kompleks itru banyak kali adalah pengalaman traumatis, misalnya adalah ketidak-mungkinan yang semu untuk menerima keadaan diri sendiri dalam keseluruhannya.

(b)         Mimpi, fantasi, khayalan
Mimpi sering-sering timbul dari kompleks dan merupakan “pesan rahasia dari sang malam”.  Mimpi mempunyai hukum dan bahasa sendiri; dalam mimpi soal-soal sebab-akibat, ruang dan waktu tidak berlaku; bahasanya bersifat lambang dan karenanya untuk memahaminya perlu ditafsirkan. Kalau bagi Freud dan adler mimpi itu dianggap sebagai hasil hal yang pathologis, yaitu penjelmaan angan-angan atau keinginan-keinginan yang tak dapat direalisasikan, maka bagi Jung mimpi itu mempunyai fungsi konstruktif, yaitu mengkompensasikan keberat-sebelahan dari konflik. Mimpi tidak hanya merupakan manifestasi hal yang pathologis, seperti kata Freud dan Adler, tetapi sering merupakan manifestasi dari ketidak-sadaran kolektif, dan banyak kali mempunyai arti profetis/kenabian.
Disamping mimpi Jung juga mengemukakan pula fantasi (phantasic) dan khayalan (vision) sebagai bentuk manifestasi ketidak-sadaran. Kedua hal terakhir ini bersangkutan dengan mimpi, dan timbul pada waktu taraf kesadaran merendah; variasinya boleh dikata tak terhingga, dari mimpi siang hari serta impian tentang keinginan-keinginan sampai pada khayalan khusus orang-orang yang dalam keadaan ekstase.

(c)         Archetypus
Archetypus-archetypus ------ istilah archetypus ini diambil Jung dari Augustinus ----- merupakan bentuk pendapat instingtif dan reaksi instingtif terhadap situasi tertentu, yang terjadi diluar kesadaran. Archetypus-archetypus ini dibawa sejak lahir dan tumbuh pada ketidak-sadaran kolektif selama perkembangan manusia (sebagai jenis), jadi tak tergantung pada manusia perorangan.
Archetypus merupakan pusat serta medan tenaga daripada ketidak-sadaran yang dapat mengubah sikap kehidupan sadar manusia. Archetypus dapat dibandingkan dengan apa yang disebut “idee”’ oleh Plato, hanya bedanya kalau idee Plato bersifat unipoler, hanya mengenai segi terang dan baiknya saja, maka archetypus ini bersifat bipoler, mengenai segi terang dan gelap. Jung menyebutnya juga “organ-organ jiwa” atau seperti apa yang disebut Bergson “les eternels increes”. Dalam pada itu harus diingat bahwa archetypus itu hanya dapat dibatasi secara formal, tidak secara material; orang bisa menggambarkannya tapi tak dapat mencandranya.


3)        Beberapa bentuk khusus isi ketidak-sadaran
(a)     Bayang-bayang
Di dalam kepribadian terdapat pula bayang-bayang, yaitru “segi lain” atau “bagian gelap” daripada kepribadian, kekurangan yang tak disadari. Bayang-bayang ini terbentuk dari fungsi inferior serta sikap jiwa yanginferor, yang karena pertimbangan-pertimbangan moral atau pertimbangan-pertimbangan lain dimasukkan ke dalam ketidak-sadaran, karena tidak serasi dengan kehidupan alam sadarnya.
Kalau aku merupakan pusat kesadaran, maka bayang-bayang merupakan pusat ketidak-sadaraan, baik ketidak-sadaran pribadi (hal-hal yang didesak ke dalam ketidak-sadaran hidup individu), maupun ketidak-sadaran kolektif (kecenderungan ke arah kegelapan pada tiap manusia). Bayang-bayang merupakan tokoh archetypus, suatu pecahan kepribadian, yang walaupun merupakan bayang-bayang tetapi tidak terikat kepada individu.

(b)    Proyeksi: Imago
Proyeksi di sini diartikan “dengan secara tidak sadar menempatkan isi-isi batin sendiri pada obyek-onyek di luar dirinya”. Bayang-bayang itu adalah sifat-sifat atau kualitas-kualitasnya ketidak-sadaran sendiri yang dihadapi sebagai sifat-sifat atau kualitas-kualitas orang lain. Peristiwa ini terjadi secara mekanis, tidak disadari. Jung menamakan ini kejiwaan yang diproyeksikan kepada orang lain itu imago.

(c)    Animus dan Anima
Imago yang terpenting pada orang dewasa adalah animus bagi orang perempuan, dan anima pada orang laki-laki, yaitu sifat-sifat atau kualitas-kualitas jenis kelamin lain yang ada dalam ketidak-sadaran manusia. Tiap-tiap manuasia itu bersifat “bi-sexual”, jadi tiap-tiap manusia memmpunyai sifat-sifat yang terdapat pada jenis kelamin lawannya; orang laki-laki adalah ketidak-sadarannya betina (anima) dan orang perempuan ketidak-sadarannya adalah jantan (animus)
Anima atau animus itu ada dalam hubungan langsung dengan persona. Persona menyesuaikan diri keluar sedang anima dan animus menyesuaikan diri ke dalam; jadi persona adalah fungsi perantara antara “aku” dan dunia luar, sedang anima dan animus fungsi perantara antara ‘aku”  dan  dunia dalam. Makin kaku persona, maka makin rendah deferensiasi anima atau animus dan makin diproyeksikan kepada orang lain. Untuk lebih menjelaskan dapat digambarkan sebagai berikut:







                                                             PIKIRAN
                                                            DUNIA     OBYEKTIF


                                          
                                                 PERSONA
            PENDRIAAN                                                                                                 INTUISI








 
                                                      A      
                                     
                                             DUNIA        SUBYEKTIF


                                                                      PERASAAN  

              
2.    Dinamika kepribadian
Jung menyatakan bahwa kepribadian atau psyche bersifat dinamis dengan gerak yang terus-menerus. Dinamika psyche tersebut disebabkan oleh enerji psikis  yang oleh Jung disebut libido. Dalam dinamika psyche terdapat prinsip-prinsip sebagai berikut (Alwisol, 2005 : 65).
a.     Prinsip oposisi
Berbagai sistem, sikap, dan fungsi kepribadian saling berinteraksi dengan tiga cara, yaitu : saling bertentangan (oppose), saling mendukung (compensate), dan bergabung mejnadi kesatuan (synthese).
Menurut Jung, prinsip oposisi paling sering terjadi karena kepribadian berisi berbagai kecenderungan konflik. Oposisi Juga terjadi antar tipe kepribadian, ekstraversi lawan introversi, pikiran lawan perasaan, dan penginderaan lawan intuisi.


b.    Prinsip kompensasi
Prinsip ini berfungsi untuk menjaga agar kepribadian tidak mengalami gangguan. Misalnya bila sikap sadar mengalami frustrasi, sikap tak sadar akan mengambil alih. Ketika individu tidak dapat mencapai apa yang dipilihnya, dalam tidur sikap tak sadar mengambil alih dan muncullah ekpresi mimpi.

c.    Prinsip penggabungan
Menurut Jung, kepribadian terus-menerus berusaha menyatukan pertentangan-pertentangan yang ada agar tercapai kepribadian yang seimbang dan integral.

3.    Perkembangan kepribadian
Carl Gustav Jung menyatakan bahwa manusia selalu maju atau mengejar kemajuan, dari taraf perkembangan yang kurang sempurna ke taraf yang lebih sempurna. Manusia juga selalu berusaha mencapai taraf diferensiasi yang lebih tinggi.
a.     Tujuan perkembangan : aktualisasi diri
Menurut Jung, tujuan perkembangan kepribadian adalah aktuali-sasi diri, yaitu diferensiasi sempurna dan saling hubungan yang selaras antara seluruh aspek kepribadian.
b.            Jalan perkembangan : progresi dan regresi
Dalam prose perkembangan kepribadian dapat terjadi gerak maju (progresi) atau gerak mundur (regresi). Progresi adalah terjadinya penyesuaian diri secara memuaskan oleh aku sadar baik terhadap tuntutan dunia luar mapun kebutuhan-kebutuhan alam tak sadar.
Apabila progesi terganggu oleh sesuatu sehingga libido terha-langi untuk digunakan secara progresi maka libido membuat regresi, kembali ke fase yang telah dilewati atau masuk ke alam tak sadar.
c.            Proses individuasi “jalan kesempurnaan”
Untuk mencapai kepribadian yang sehat dan terintegrasi secara kuat maka setiap aspek kepribadian harus mencapai taraf diferensiasi dan perkembangan yang optimal. Proses untuk sampai ke arah tersebut oleh Jung dinamakan proses individuasi atau proses penemuan diri.
Berpangkal dari keadaan psikis sesaat (pada suatu saat tertentu) tenaga-tenaga pembantu ketidak-sadaran diaktifkan, diadakan hubungan koordinatif antara pasangan-pasangann yang berlawanan, dan aspek-aspek di perkembangan dan didiferensiasikan, supaya totalitas psikis dapat berfungsi dengan sebaik-baiknya, dan dengan demikian diri dapat berkembang dengan sempurna, proses individuasi itu ditandai oleh bermacam-macam perjuangan batin dan melalui bermacam-macam fase, yaitu:
(1) Fase pertama:
Membuat sadar fungsi-fungsi pokok serta sikap jiwa yang ada dalam ketidak-sadaran. Dengan cara ini tegangan dalam batin berkurang dan kemampuan untuk mengadakan orientasi serta penyesuaian diri meningkat.
(2) Fase ke dua:
Membuat sadar imago-imago, dengan menyadari ini orang akan mampu melihat kelemahan-kelemahannya sendiri yang diproyeksikan.
(3) Fase ke tiga:
Menginsyafi bahwa manusia hidup dalam tegangan pasangan-pasangan yang berlawanan, baik rohaniah maupun jasmaniah, dan bahwa manusia harus tabah menghadapi hal ini serta dapat mengatasinya.
(4) Fase ke empat yang terakhir:
Adanya hubungan yang selaras antara  kesadaran dan ketidak-sadaran -----jadi antara segala aspek daripada kepribadian ----- yang ditimbulkan oleh titik konsentrasi umum, yaitu Diri. Diri menjadi titik kepribadian, dan menerangi, menghubungkan serta mengkoordinasikan seluruh aspek kepribadian. Inilah manusia integral atau manusia “sempurna”. Untuk ilustrasi lihat gambar dibawah ini.














                                                         DUNIA LUAR

                                                                               PERSONA
                                                                                        
                                                                                    AKU
                                                                 


                                                               DIRI


                                                              
                                                                                                       BAYANG
                                                                                                       BAYANG

                                                                      ANIMA DAN ANIMUS

                                                          DUNIA LUAR

                                           Gambar 9: Manusia Integral










BAB VI
KEPRIBADIAN MENURUT ORIENTASI BEHAVIORISTIK

A. Pendahuluan
Behaviorisme merupakan sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh J.B. Watson. Sama halnya dengan psikoanalisis, behaviorisme juga merupakan aliran yang revolusioner, kuat dan berpengaruh serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam. Selain Watson ada beberapa orang yang dipandang sebagai tokoh behaviorsime, diantaranya adalah Ivan Pavlov, E.L. Thorndika, B.F. Skinner, dll. Namun demikian bila orang berbicara kepribadian atas dasar orientasi behevioristik maka nama yang senantiasa disebut adalah Skinner mengingat dia adalah tokoh behaviorisme yang paling produktif dalam mengemukakan gagasan dan penelitian, paling berpengaruh, serta paling berani dan tegas dalam menjawab tantangan dan kritik-kritik atas behaviorisme (Koeswara, 2001 : 69).
Paradigma yang dipakai untuk membangun teori behavioristik adalah bahwa tingkah laku manusia itu fungsi stimulus, artinya determinan tingkah laku tidak  berada di dalam diri manusia tetapi bearada di lingkungan (Alwisol, 2005 : 7). Pavlov, Skinner, dan Watson dalam berbagai eksperimen mencoba menunjukkan betapa besarnya pengaruh lingkungan terhadap tingkah laku. Semua tingkah laku termasuk tingkah laku yang tidak dikehendaki, menurut mereka, diperoleh melalui belajar dari lingkungan.

B. Teori Kepribadian Skinner
1. Asumsi yang Dipakai Skinner
Skinner menjelaskan perilaku manusia dengan tiga asumsi dasar, di mana asumsi pertama dan kedua pada padasarnya menjadi asumsi psikologi pada umumnya, bahkan juga merupakan asumsi semua pendekatan ilmiah (Alwisol, 2005 : 400). Ketiga asumsi tersebut adalah :
a.. Tingkah laku itu mengikuti hukum tertentu (behavior is lawful). Ilmu adalah usaha untuk menemukan keteraturan, menunjukkan bahwa peristiwa tertentu berhubungan secara teratur dengan peristiwa lain.
b. Tingkah laku dapat diramalkan (behavior can be predicted). Ilmu bukan hanya menjelaskan tetapi juga meramalkan. Bukan hanya menangani peristiwa masa lalu tetapi juga masa yang akan datang. Teori yang berdaya guna adalah yang  memungkinkan dilakukannya prediksi mengenai tingkah laku yang akan datang dan menguji prediksi itu.
c.  Tingkah laku dapat dicontrol (behavior can be controlled).
Ilmu dapat melakukan antisipasi dan menentukan / membentuk tingkah laku seseorang .

2. Pokok-pokok Pandangan Skinner
a. Struktur kepribadian
Skinner tidak tertarik dengan variable structural dari kepribadian. Menurutnya, mungkin dapat diperoleh illusi yang menjelaskan dan memprediksi tingkah laku berdasarkan faktor-faktor yang tetap dalam kepribadian, tetapi tingkah laku hanya dapat diubah dan dikendalikan dengan mengubah lingkungan. Sedangkankan unsur kepribadian yang dipandangnya relatif tetap adalah tingkah laku itu sendiri.  Menurut Skinner ada dua klasifikasi tingkah laku yaitu :
1) Tingkah laku responden (respondent behavior), adalah respon yang dihasilkan (elicited) organisme untuk menjawab stimulus yang secara spesifik berhubungan dengan respon itu.
2) Tingkah laku operan (operant behavior), adalah respon yang dimunculkan (emittes) organisme tanpa adanya stimulus spesifik yang langsung memaksa terjadinya respon itu.
Bagi Skinner, faktor motivasional dalam tingkah laku bukan elemen struktural. Dalam situasi yang sama tingkah laku seseorang bisa berbeda-beda kekuatan dan keringan munculnya. Dan itu bukan karena kekuatan dari dalam diri individu atau motivasi. Menurut Skinner variasi kekuatan tingkah laku tersebut disebabkan oleh pengaruh lingkungan.

b. Dinamika kepribadian
1) Kepribadian dan belajar
·   Kepedulian utama Skinner berkenaan dengan kepribadian adalah mengenai perubahan tingkah laku. Hakikat teori Skinner adalah teori belajar, bagaimana individu memiliki tingkah laku baru, menjadi lebih terampil, menjadi lebih tahu dan mampu, dst.
·   Menurut Skinner kepribadian dapat dipahami dengan mempertimbangkan perkembangan tingkah laku dalam hubungannya yang terus-menerus dengan lingkungannya. Cara yang efektif untuk mengubah dan mengontrol tingkah laku adalah dengan melakukan penguatan (reinforcement) . Dalam teori Skinner penguatan dianggap sangat penting untuk membentuk tingkah laku. Menurut Skinner, ada dua macam penguatan :
_ Reinforcement positif, yaitu efek yang menyebabkan tingkah laku diperkuat atau sering dilakukan.
_ Reinforcement negatif, yaitu efek yang menyebabkan tingkah laku diperlemah atau tidak diulangi lagi.

2) Pembentukan perilaku dan perilaku berantai
Dalam melatih suatu perilaku., Skinner mengemukakan istilah shaping (membentuk), yaitu upaya secara bertahap untuk membentuk perilaku, mulai dari bentuk yang paling sederhana sampai bentuk yang paling kompleks. Menurut Skinner terdapat 2 unsur dalam pengertian shaping, yaitu :
·   Adanya penguatan secara berbeda-beda (differential reinforcement), yaitu ada respon yang diberi penguatan dan ada yang tidak diberi penguatan.
·   Upaya mendekat terus-menerus (successive approximation) yang mengacu pada pengertian bahwa hanya respon yang sesuai dengan harapan eksperimenter yang diberi penguat.









BAB VII
KEPRIBADIAN MENURUT PSIKOLOGI HUMANISTIK
A. Pendahuluan
Istilah psikologi humanistik (Humanistic Psychology) diperkenalkan oleh sekelompok ahli psikologi yang pada awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah kepemimpinan Abraham Maslow dalam mencari alternatif dari dua teori yang sangat berpengaruh atas pemikiran intelektual dalam psikologi.
Kedua teori yang dimaksud adalah psikoanalisis dan behaviorisme. Maslow menyebut psikologi humanistik sebagai “kekuatan ketiga” (a third force). Meskipun tokoh-tokoh psikologi humanistik memiliki pandangan yang berbeda-beda, tetapi mereka berpijak pada konsepsi fundamental yang sama mengenai manusia, yang berakar pada salah satu aliran filsafat modern, yaitu eksistensialisme. Manusia, menurut eksistensialisme adalah hal yang mengada-dalam dunia (being-in-the-world), dan menyadari penuh akan keberadaannya (Koeswara, 2001 : 113). Eksistensialisme menolak paham yang menempatkan manusia semata-mata sebagai hasil bawaan ataupun lingkungan. Sebaliknya, para filsuf eksistensialis percaya bahwa setiap individu memiliki kebebasan untuk memilih tindakan, menentukan sendiri nasib atau wujud dari keberadaannya, serta bertanggung jawab atas pilihan dan keberadaannya.

B. Pokok-pokok Teori Abraham Maslow
Oleh karena eksistensialisme menekankan pada anggapan bahwa manusia memiliki kebebasan dan bertanggung jawab bagi tindakan-tindakannya,maka pandangan-pandangan eksistensialisme menarik bagi para ahli psikologi humanistik dan selanjutnya dijadikan landasan teori psikologi humanistik. Adapun pokok-pokok teori psikologi humanistik yang dikembangkan oleh Maslow adalah sebagai berikut (Koeswara, 2001 :112-118 dan Alwisol 2005 : 252-270)

1. Prinsip holistik
Menurut Maslow, holisme menegaskan bahwa organisme selalu berting-kah laku sebagai kesatuan yang utuh, bukan sebagai rangkaian bagian atau komponen yang berbeda. Jiwa dan tubuh bukan dua unsur yang terpisah tetapi bagian dari suatu kesatuan, dan apa yang terjadi pada bagian yang satu akan mempengaruhi bagian yang lain. Pandangan holistik dalam kepribadian, yang terpenting
adalah :
a.   Kepribadian normal ditandai dengan unitas, integrasi, konsistensi, dan koherensi/padu/saling melemgkapi. Organisasi adalah keadaan normal dan disorganisasi adalah keadaan patologis (sakit).
b.   Organisme dapat dianalisis dengan membedakan tiap bagiannya, tetapi tidak ada bagian yang dapat dipelajari dalam isolasi.
c.   Organisme memiliki suatu dorongan yang berkuasa, yaitu aktualisasi diri.
d.   Pengaruh lingkungan eksternal pada perkembangan normal bersifat minimal. Potensi organisme jika bisa terkuak di lingkungan yang tepat akan menghasilkan kepribadian yang sehat dan integral.
e.   Penelitian yang komprehensif terhadap satu orang lebih berguna dari pada penelitian ekstensif terhadap banyak orang mengenai fungsi psikologis yang diisolasi.

2. Individu adalah penentu bagi tingkah laku dan pengalamannya sendiri. Manusia adalah agen yang sadar, bebas memilih atau menentukan setiap tindakannya. Dengan kata lain manusia adalah makhluk yang bebas dan bertanggung jawab.

3. Manusia tidak pernah diam, tetapi selalu dalam proses untuk menjadi sesuatu yang lain dari sebelumnya (becoming). Namun demikian perubahan tersebut membutuhkan persyaratan, yaitu adanya lingkungan yang bersifat mendukung.

4. Individu sebagai keseluruhan yang integral, khas, dan terorganisasi.

5. Manusia pada dasarnya memiliki pembawaan yang baik atau tepatnya netral. Kekuatan jahat atau merusak pada diri manusia merupakan hasil atau pengaruh dari lingkungan yang buruk, dan bukan merupakan bawaan.
6. Manusia memiliki potensi kreatif yang mengarahkan manusia kepada pengekspresian dirinya menjadi orang yang memiliki kemampuan atau keistimewaan dalam bidang tertentu.

7. Self-fulfillment (pemenuhan-diri) merupakan tema utama dalam hidup manusia.

8. Manusia memiliki bermacam-macam kebutuhan yang secara hirarki dibedakan menjadi sebagai berikut (Boeree, 2004)
(1) kebutuhan-kebutuhan fisiologis (the physiological needs)
(2) kebutuhan akan rasa aman (the safety and security needs)
(3) kebutuhan akan cinta dan memiliki (the love and belonging needs)
(4) kebutuhan akan harga diri (the esteem needs)
(5) kebutuhan akan aktualisasi diri (the self-actualization needs)


Gambar 10 : PIRAMIDA KEBUTUHAN MANUSIA

                                              
                                               Aktu                                                         alisasi                                                       diri


 
                                                   Harga diri      
                                           Cinta dan dicintai         
                                               Rasa aman                          
                                                Fisiologis





C. Teori Carl Rogers
1. Pendahuluan
Tokoh psikologi humanistik selain Abraham Maslow, adalah Carl Rogers. Rogers (1902-1987) menjadi terkenal berkat metoda terapi yang dikembangkannya, yaitu terapi yang berpusat pada klien (client-centered therapy). Tekniknya tersebar luas di kalangan pendidikan, bimbingan, dan pekerja sosial. Rogers sangat kuat memegang asumsinya bahwa manusia itu bebas, rasional, utuh, mudah berubah, subjektif, proaktif, heterostatis, dan sukar dipahami (Alwisol, 2005 : 333).

2. Pokok-pokok Teori Carl Rogers
a. Struktur kepribadian
Rogers lebih mementingkan dinamika dari pada struktur kepribadian. Namun demikian ada tiga komponen yang dibahas bila bicara tentang struktur kepribadian menurut Rogers, yaitu : organisme, medan fenomena, dan self.

1) Organime, mencakup :
a) Makhluk hidup
Organisme adalah makhluk; lengkap dengan fungsi fisik dan psikologisnya, tempat semua pengalaman dan segala sesuatu yang secara potensial terdapat dalam kesadaran setiap saat.
b) Realitas subjektif
Organisme menanggapi dunia seperti yang diamati atau dialaminya. Realita adalah medan persepsi yang sifatnya subjektif, bukan benar-salah.
c) Holisme
Organisme adalah kesatuan sistem, sehingga perubahan pada satu bagian akan mempengaruhi bagian lain. Setiap perubahan memiliki makna pribadi atau bertujuan, yakni tujuan mengaktualisasi, mempertahankan, dan mengembangkan diri.
2) Medan fenomena
Rogers mengartikan medan fenomena sebagai keseluruhan pengalaman, baik yang internal maupun eksternal, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Medan fenomena merupakan seluruh pengalaman pribadi seseorang sepanjang hidupnya.

3) Self
Self merupakan konsep pokok dari teori kepribadian Rogers, yang intinya adalah:
a) terbentuk melalui medan fenomena dan melalui introjeksi nilai-nilai orang tertentu;.
b)   bersifat integral dan konsisten;
c) menganggap pengalaman yang tak sesuai dengan struktur self sebagai ancaman;
d)   dapat berubah karena kematangan dan belajar.

b. Dinamika kepribadian
Menurut Rogers, organisme mengaktualisasikan dirinya menurut garis-garis yang diletakkan oleh hereditas. Ketika organisme itu matang maka ia makin berdiferensiasi, makin luas, makin otonom, dan makin tersosialisasikan. Rogers menyatakan bahwa pada dasarnya tingkah laku adalah usaha organisme yang berarah tujuan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhannya sebagaimana dialami, dalam medan sebagaimana medan itu dipersepsikan (Hall dan Lindzey, 1995 :136-137).
Rogers menegaskan bahwa secara alami kecenderungan aktualisasi akan menunjukkan diri melalui rentangan luas tingkah laku, yaitu :
1) Tingkah laku yang berakar pada proses fisiologis, termasuk kebutuhan dasar (makana, minuman, dan udara), kebutuhan mengembangkan dan memerinci fungsi tubuh serta generasi.
2) Tingkah laku yang berkaitan dengan motivasi psikologis untuk menjadi diri sendiri.
3) Tingkah laku yang tidak meredakan ketegangan tetapi justru meningkatkan tegangan, yaitu tingkah laku yang motivasinya untuk berkembang dan menjadi lebih baik.

Rogers tidak membahas teori pertumbuhan dan perkembangan, namun dia yakin adanya kekuatan tumbuh pada semua orang yang secara alami mendorong proses organisme menjadi semakin kompleks, otonom, sosial, sdan secara keseluruhan semakin aktualisasi diri.
Rogers menyatakan bahwa self berkembang secar utuh-keseluruhan, menyentuh semua bagian-bagian. Berkembangnya self diikuti oleh  kebutuhan penerimaan positif, dan penyaringan tingkah laku yang disadari agar tetap sesuai dengan struktur self sehingga dirinya berkembang menjadi pribadi yang berfungsi utuh.
Pribadi yang berfungsi utuh menurut Rogers adalah individu yang memakai kapasitas dan bakatnya, merealisasi potensinya, dan bergerak menuju pemahaman yang lengkap mengenai dirinya sendiri dan seluruh rentang pengalamannya. Rogers menggambarkan 5 ciri kepribadian yang berfungsi sepenuhnya sebagai berikut :
1) terbuka untuk mengalami (openess to experience);
2) hidup menjadi (existential living);
3) keyakinan organismik (organismic trusting);
4) pengalaman kebebasan (experiental freedom);
5) kreativitas (creativity)












BAN VIII
Manusia Dalam Perspektif Psikologi
Dalam literatur psikologi pada umumnya para ahli ilmu ini berpendapat bahwa penentu perilaku utama manusia dan corak kepribadian adalah keadaan jasmani, kualitas kejiwaan, dan situasi lingkungan. Determinan tri dimensional ini (organo biologi, psikoedukasi, dan sosiokultural) merupakan determinan yang banyak dianut oleh ahli psikologi dan psikiatri. Dalam hal ini unsur rohani sama sekali tidak masuk hitungan karena dianggap termasuk penghayatan subjektif semata-mata.
Selain itu psikologi apapun alirannya menunjukkan bahwa filsafat yang mendasarinya bercorak antroposentrisme yang menempatkan manusia sebagai pusat segala pengalaman dan relasi-relasinya serta penentu utama segala peristiwa yang menyangkut masalah manusia. Pandangan ini mengangkat derajat manusia teramat tinggi ia seakan-akan memiliki kausa prima yang unik, pemilik akal budi yang sangat hebat, serta memiliki kebebasan penuh untuk berbuat apa yang dianggap baik dan sesuai baginya.
Sampai dengan penghujung abad ini terdapat empat aliran besar psikologi, yakni : Psikoanalisis, psikologi Perilaku, Psikologi Humasnistik, Psikologi Transpersonal. Masing-masing aliran meninjau manusia dari sudut pandang yang berlainan, dan dengan metodologi tertentu berhasil menentukan berbagai dimensi dan asas tentang kehidupan manusia, kemudian membangun teori dan filsafat mengenai manusia.
Psikoanalisis
Pendiri psikoanalisis adalah Sigmund Freud (1856-1839), seorang neurolog berasal dari Austria, keturunan Yahudi. Teori yang dikembangkan pengalaman menangani pasien, freud menemukan ragam dimensi dan prinsip-prinsip mengenai manusia yang kemudian menyusun teori psikologi yang sangat mendasar, majemuk, dan luas implikasinya dilingkungan ilmu sosial, humaniora, filsafat, dan agama.
Menurut Freud kepribadian manusia terdiri dari 3 sistem yaitu id (dorongan biologis), Ego (kesadaran terhadap realitas kehidupan), dan Superego (kesadaran normatif) yang berinteraksi satu sama lain. Id merupakan potensi yang terbawa sejak lahir yang berorientasi pada kenikmatan (pleasure principle), menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan, dan menuntut kenikmatan untuk segera dipenuhi. Ego berusaha memenuhi keinginan dari id berdasarkan kenyataan yang ada (Reality principle). Sedangkan superego menuntut adanya kesempurnaan dalam diri dan tuntutan yang bersifat idealitas.
Dalam diri manusia ada 3 tingkatan kesadaran yaitu alam sadar, alam tidak sadar, dan alam prasadar. Alam kesadaran manusia digambarkan freud sebagai sebuah gunung es dimana puncaknya yang kecil muncul kepermukaan dianggap sebagai alam sadar manusia sedangkan yang tidak muncul ke permukaan merupakan alam ketidaksadaran yang luas dan sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia. Dan diantara alam sadar dan alam ketidaksadaran terdapat alam prasadar. Dengan metode asosisi bebas, hipnotis, analisis mimpi, salah ucap, dan tes proyeksi hal-hal yang terdapat dalam alam prasadar dapat muncul ke alam sadar.
Psikologi Perilaku (behavior)
Aliran ini berpendapat bahwa perilaku manusia sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan luar dan rekayasa atau kondisioning terhadap manusia tersebut. Aliran ini mengangap bahwa manusia adalah netral, baik atau buruk dari perilakunya ditentukan oleh situasi dan perlakuan yang dialami oleh manusia tersebut. Pendapat ini merupakan hasil dari eksperimen yang dilakukan oleh sejumlah penelitian tentang perilaku binatang yang sebelumnya dikondisikan. Aliran perilaku ini memberikan kontribusi penting dengan ditemukannya asas-asas perubahan perilaku yang banyak digunakan dalam bidang pendidikan, psikoterapi terutama dalam metode modifikasi perilaku. Asas-asas dalam teori perilaku terangkum dalam hukum penguatan atau law of enforcement, yakni :
a. Classical Conditioning
Suatu rangsang akan menimbulkan pola reaksi tertentu apabila rangsang tersebut sering diberikan bersamaan dengan rangsang lain yang secara alamiah menimbulkan pola reaksi tersebut. Misalnya bell yang selalu dibunyikan mendahului pemberian makan seekor anjing lama kelamaan akan menimbulkan air liur pada anjing itu sekalipun tidak diberikan makanan. Hal ini terjadi karena adanya asosiasi antara kedua rangsang tersebut.
b. Law of Effect
Perilaku yang menimbulkan akibat-akibat yang memuaskan akan cenderung diulang, sebaliknya bila akibat-akiat yang menyakitkan akan cenderung dihentikan.
c. Operant Conditioning
Suatu pola perilaku akan menjadi mantap apabila dengan perilaku tersebut berhasil diperoleh hal-hal yang dinginkan oleh pelaku (penguat positif), atau mengakibatkan hilangnya hal-hal yang diinginkan (penguat negatif). Di lain pihak suatu pola perilaku tertentu akan menghilang apabila perilaku tersebut mengakibatkan hal-hal yang tak menyenangkan (hukuman), atau mangakibatkan hilangnya hal-hal yang menyenangkan si pelaku (penghapusan).
d. Modelling
Munculnya perubahan perilaku terjadi karena proses dan peneladanan terhadap perilaku orang lain yang disenangi (model)
Keempat asas perubahan perilaku tersebut berkaitan dengan proses belajar yaitu berubahnya perilaku tertentu menjadi perilaku baru
Psikologi Humanistik
Berlainan dengan psikoanalisis yang memandang buruk manusia dan behavior yang memandang manusia netral, psikologi humanistik berasumsi bahwa pada dasarnya manusia memiliki potensi-potensi yang baik, minimal lebih banyak baiknya dari pada buruknya. Aliran ini memfokuskan telaah kualitas-kualitas insani. Yakni kemampuan khusus manusia yang ada pada manusia, seperti kemampuan abstraksi, aktualisasi diri, makna hidup, pengembangan diri, dan rasa estetika. Kualitas ini khas dan tidak dimiliki oleh makhluk lain. Aliran ini juga memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki otoritas atas kehidupannya sendiri. Asusmsi ini meunjukkan bahwa manusia makhluk yang sadar dan mandiri, pelaku yang aktif yang dapat menentukan hampir segalanya.
 Salah satu kelompok aliran ini adalah logoterapi yang dikembangkan oleh Viktor Frankl. Logoterapi mengatakan bahwa manusia terdiri dari 2 komponen dasar yaitu dimensi raga (somatis), dan dimensi kejiwaan (psikis) atau dimensi neotic atau sering disebut dengan dimensi kerohanian (spiritual). Menurut Frankl bahwa arti kerohanian ini tidak mengacu pada agama tetapi dimensi ini dianggap inti kemanusiaan dan merupakan sumber dari makna hidup, serta potensi dari berbagai kemampuan dan sifat luhur manusia yang luar biasa yang selama ini terabaikan oleh telaah psikologi sebelumnya. Logoterapi mengajarkan bahwa manusia harus dipandang sebagai satu kesatuan dari raga-jiwa-rohani.
Manusia memiliki hasrat untuk mencari makna hidup, bila seseorang berhasil menemukan makna hidupnya maka hidupnya akan bahagia demikian sebaliknya bila tidak menemukannya maka hidupnya akan hampa. Dan menurut frankl kehilangan makna hidup ini banyak dialami oleh orang-orang yang hidup dalam dunia modern saat ini.
Psikologi Transpersonal
Aliran ini dikembangkan oleh tokoh dari psikologi humanistik antara lain : Abraham Maslow, Antony Sutich, dan Charles Tart. Sehingga boleh dikatakan bahwa aliran ini merupakan perkembangan dari aliran humanistik. Sebuah definisi yang dikemukakan oleh Shapiro yang merupakan gabungan dari berbagai pendapat tentang psikologi transpersonal : psikologi transpersonal mengkaji tentang potensi tertinggi yang dimiliki manusia, dan melakukan penggalian, pemahaman, perwujudan dari kesatuan, spiritualitas, serta kesadaran transendensi. Rumusan di atas menunjukkan dua unsur penting yang menjadi telaah psikologi transpersonal yaitu potensi-potensi yang luhur (potensi tertinggi) dan fenomena kesadaran manusia. The altered states of consciousness adalah pengalaman seorang melewati kesadaran biasa misalnya pengalaman memasuki dimensi kebatinan, keatuan mistik, komunikasi batiniah, pengalaman meditasi. Demikian pula dengan potensi luhur manusia menghasilkan telaah seperti extra sensory perception, transendensi diri, ectasy, dimensi di atas keadaran, pengalaman puncak, daya batin dll.
Psikologi transpersonal seperti halnya psikologi humanistik menaruh perhatian pada dimensi spiritual manusia yang ternyata mengandung potensi dan kemampuan luar biasa yang sejauh ini terabaikan dari telaah psikologi kontemporer. Perbedaannya dengan psikologi humanistik adalah bila psikologi humanistik menggali potensi manusia untuk peningkatan hubungan antar manusia, sedangkan transpersonal lebih tertarik untuk meneliti pengalaman subjektif-ransendental, serta pengalaman luar biasa dari potensi spiritual ini. Kajian transpersonal ini menunjukkan bahwa aliran ini mencoba mengkaji secara ilmiah terhadap dimensi yang selama ini dianggap sebagai bidang mistis, kebatinan, yang dialami oleh kaum agamawan (kyai, pastur, bikhu) atau orang yang mengolah dunia batinnya. Hasil dari beberapa penelitian tranpersonal menunjukkan bahwa bidang kebatinan bisa menjadi bidang ilmu dan dapat dikaji secara ilmiah sehingga hal tersebut penting untuk di kaji lebih dalam dan tidak dianggap sebagai suatu bid’ah, khurafat, ataupun syirik yang akhirnya membelenggu ilmuwan psikologi untuk mempelajari potensi yang tertinggi ini.















Bab IX
MEMAHAMI BEBERAPA CARA ORANG MENUTUP DIRI
(Pieter B. Mboeik)

Dibawah ini dikemukakan beberapa jenis “permaianan peranan” yang sering dimainkan orag dalam relasi antar manusia, sadar atau tidak. Meskipun permainan nampaknya sangat berbeda, namun mempunyai satu, persamaan yaitu:
*permaianan ini menjadi topeng (persona) untuk menutup diri saya sendiri secara sesungguhnya* Jenis permainan ini, tidak berurut serta tidak pula memandang perbedaan sexualitas.

1. BESAR MULUT
Besar mulut merupakan usaha kekanak-kanakan untuk menunjukkan kelebihan diri dan sekaligus dapat menjadi penindas, ingin menguasai orang lain lewat obrolannya dan kalau perlu dengan kekuatan jasmani. Ia menderita inferiority complex sehingga ia ingin menjadi orang penting tanpa punya kemampuan untuk mencapai keinginannya, antara lain karena ia sendiri tidak percaya akan kemampuan dirinya.
2. BADUT
Ia sangat ingin mendapat perhatian, tetapi dengan jalan membadut dan menyamakan diri benar-benar dengan tokoh badut yang diperaninya; ia melarikan diri dari realitas ini dengan memandang apapun dengan cara tidak pernah serius ia sebenarnya tidak mampu menempatkan diri pada suatu situasi yang menuntut taggung jawab. Misalnya ia tak dapat menempatkan diri pada suatu suasana layatan atau suasana ibadah yang khusuk; dimana-mana ia selalu membadut. Sebenarnya dengan membadut, ia melindungi diri supaya orang lain tidak mengetahui siapakah ia sebenarnya. Ia lebih suka bermain membadut daripada memecahkan masalah.
3. BOM SEX 
Wanita ini bukan selalu SEX MANIAK (yang husus wanita disebut  NYMFOMANIAK/orang yang tergila-gila sex). Ia hanya ingin menanti perhatian lelaki dengan “mempamerkan” tubuhnya yang mengggiurkan, karena dengan mendapat perhatian ia artikan harga dirinya naik tetapi sebenarnya yang diperoleh dari lelaki adalah perhatian murahan dari lelaki murahan pula.
4. DON YUAN
Don yuan, lelaki  “mata keranjang”,  sangat terkenal. Ia seorang egois. Selain itu inferiority complex-nya kuat, sehingga ia mencari kompensasi dengan jalan menaklukkan jenis kelamin lain. Sebenarnya sekalipun ia dapat memikat/menaklukkan banyak wanita, ia seorang yang menyembunyikan rasa tidak aman, sehingga seyogyanya ia dikasihani daripada dikutuk.
Kedua petualangan sex diatas (nmor 3 dan 4) tak sanggup mencintai satu orang untuk selamanya, malah tak dapat mencintai sama sekali.
5. BAHAN  PELEDAK
Ia mudah meledak dengan keras, dimana-mana marahnya seringkali karena sesuatu yang sebenarya tidak merupakan sebab utamanya. Sebabnya: ia tidak dapat membicarakan kejengkelannya yang sungguh-sungguh secara terbuka, dan akar kejengkelan ini adalah rasa permusuhan yang ditekan karena berpendapat itu tidak pantas diungkapkan oleh orag beradab. Banyak orang tua dengan rasa permusuhan terpendam yang lebih besar lagi dst. Yang semuanya tersimpan dalam alam bawah sadar. Seringkali kita mudah marah kepada orang-orang yang kita cintai sebenarnya, sebab kepada merkalah kita paling banyak menyimpan rasa bermusuhan (karena pergalulan kita lebih lama & lebih dekat).
6. RAPUH
Orang ini sering member kesan kepada orang lain, bahwa ia “rapuh”, dan membutuhkan perlakuan yang hati-hati, “mudah pecah”.
Akibat dari kesan itu, maka orang lain menjadi enggan untuk:
-          Berurusan dengan dia (karena mudah menangis)
-          Menyampaikan teguran dsb.-nya
-          Meminta pertanggungan jawaban
-          Memintanya melakukan sesuatu tugas (karena lebih baik kita melakukannya sendiri).
Penilaian orang lain sangat membekas, harga diri kurang-nya sangat besar (sangat minder), sehingga ia menjadi sangat hipersensitif. Semua ini ia tidak sadari. Itu semua adalah sifat regresi infantilis (sifat kekanak-kanakan).
7. PATERNALISTIK
Ia membayangkan dirinya sebagai orang yang:
-          Amat penting
-          Dapat menolong, menyelamatkan orang lain
-          Percaya diri
-          Menganggap semua orang lain perlu dibantu dan dialah penolongnya
-          Selalu menawarkan bantuan
-          Memandang orang lain berada dibawah tingkatnya.
8. HARGA DIRI KURANG
Ia menyadari adanya perbedaan besar antara „ aku onkritnya“ dengan « aku ideal-nya » dimana « aku konkritnya » dipandang sangat rendah, lemah, kurang berharga.                                                 Rasa harga diri / kurang diri, b iasanya mendorong seseorang untuk bersaing dan menyerang, untuk menaikkan harga dirinya.
9. PENDERITA RASA BERSALAH
Rasa bersalah menunjukkan diri pada sikap MEREMEHKAN diri, MENGHUKUM diri dan membuat seseorang menjadi PENURUT, seseorang yang menyerah mutlak dan menghindarkan dari semua sikap permusuhan (rasa minder wardig mendorong orang jadi pemberontak ; rasa bersalah mendorong orang menjadi penurut.
10. PENUNDA
Pelarian dari kenyataan itu diusahakan dengan menangguhkan hal-hal yang seharusnya dilakukan sekarang ini juga. Tukang penangguh ini suka menipu diri dengan ketetapan-keteyapan yang tidak realistis seperti : « saya akan mengurangi rokok segera setelah saya dapat libur panjang.»  « saya akan mulai berlatih  kalau udaranya sudah lebih baik.» saya akan mulai pergi ke gereja lagi kalau saya sudah menetap, berkeluarga dan mempunyai anak. Lari ke nanti, besok dan lain kali yang tidak realistis dan samar-samar adalah salah satu dari bermacam-macam cara orang melarikan diri dari kenyatan.
11. MUDAH PATAH
Orang ini tidak sanggup menerima kekecewaan barang sedikitpun. Ia tdak dapat bertahan dalam tekanan dan ketegangan. Ia mudah patah. Hatinya penuh kekesalan. Biasanya orang yang cepat dan mudah menjadi jengkel ini telah mengalami hal yang sama seperti orang yang suka bersaing. Pada masa kanak-kanak keperluan emosionalnya kurang dipuaskan, sehingga ia menyimpan rasa permusuhan. Ia merasa bahwa rasa aman dicuri. Ia mudah merasa tidak yakin pada dirinya pabila sesuatu tidak berjalan lancar dan ia memelihara sederetan keluhan kecil, yang sewaktu-aktu dilontarkannya kepada orang lain. Orang-orang sekelilingnya diharuskannya tahu, bahwa salaah satu dari hal-hal ini dapat membuatnya sangat jengkel dan marah. Dan disinilah letak seni permainan itu. Entah dengan cara bagaimana, orang lain tahu dan harus hati-hati sepaya jangan mengecewakannya.
12.  PELACAK
 Permainan orang ini timbul dari anggapan keliru bahwa dirinya amat penting. Ia menunjukkan rasa penting ini kepada siapapun. Dimana-mana ia mau dikenal dan cenderung “aku-sentris” dalam pembicaraan. Sama seperti si besar mulut, orang inipun mencari kmpensasi atas rasa harga diri yang kurang. Selalu ada usaha untuk melindungi egonya supaya jangan dianggap remeh. Ia condong berbuat yang « wah!». Ia suka dipandang dan didahulukan. Ia benci dinomorduakan. Seringia bermimpi-mimpi tentang perbuatan-perbuatannya yang hebat yang akan membuat dunia selalu menyenangkan namanya sesudah ia meninggal. Cara-cara berlagak yang penuh khayalan ini member rasa penting yang tidak diperolehnya dalam kenyataan. Jelas, bahwa sukarlah baginya memandang diri sendiri dengan jujur.
13. PEMABUK DAN PECANDU
Tukang melamun terbang dari kenyataan dengan permadani ajaib khayalannya. Pemabuk dan pecandu mencoba alat lain: mereka minum minuman dan obat bius. Semakin peka orang itu tehadap tekanan, semakin pula ia memerlukan alat pelarian. Ketagihan akan minuman atau obat bius biasanya terdapat pada orang-orang yang tisak dapat menerima kehilangan sesuatu. Mereka mudah hancur karena kekalahan dan gelisah karena terlalu melihat kekurangan-kekurangan pada dirinya sendiri dan tidak betah bergaul dengan orang lain.
Rasa lega dan pengalaman bebas sementara, yang dirasakan dalam kemabukan oleh obat bius atau minuman keras yang berlebihan, biasanya disusul oleh kegelisahan da tekanan jiwa yang semakin bertambah, setelah kabut kemabukan itu menghilang. Lalu untuk mematikan kegelisahan, rasa bersalah dan tekanan jiwa ini,  ia merasa lebih lagi memerlukan obat dan minuman untuk menenangkan syaraf-sarafnya. Terang, obat bius dan minuman keras bukan “jalan keluar”. Melarikann diri dari kenyataan, yang dicapai waktu mabuk, lebih menyulitkan orang untuk menyesuaikan diri kembali kepada kenyataan dan hidup di dalamnya.
14. PEMBURU CINTA
B ermain si hidung belang dan berganti-ganti pacar pada dasarnya adalah usaha orang untuk mendapatkan semacam pengakuan bagi egonya. Biasanya dimainkan oleh orang yang kehidupan emosionalnya tidak pernah mendalam. Hanya hubungan yang mendalam dapat emberi ketentraman. Yaitu dengan jalan lebih mengenal diri dan menerima keadaan diri. Tetapi pemburu cinta hanya mungkin selama perasaan kita dangkal dan tak berharga, - meskipun kita tidak suka dikatakan begitu.  Diatas emosi-emosi permainan ini tak mungkin dibangn hubungan manusiawi yang agak mendalam.bla orang ini telah bosan dengan hasil perburuhannya, ia mencari mangsa yang lain. „sport“ ini bersifat sangat egois dan banyak mengakibatkan kerugian. Tidak seorangpun mau engaku, bahwa ia berburu cinta. Tetapi kalau ia sudah mengakui kecenderungan itu untuk usaha engatasinya, ia telah maju setapak earah pendewasaan emosionil.
Dalam semua permainan ini, kita harus bertanya kepada diri sendiri :Apa sebenarnya yang kita kehendaki? Mengapa kita menghendakinya? (jawaban atas pertanyaan ini selalu menceritakan sesuatu tentang diri sendiri). Mengapa sebenarnya lebih baik kita meninggalkan permainan kekanak-kanakan ini?
Bermain cinta memang sementara dapat memuasakan. Tetapi cinta-cinta sedikit yang cepat berlalu seringkali amat menyulitkan hidup, membuat orang harus mencari dalih, mereka-reka alasan, dusta dan kehabisan akal. Perkembangan sexuil dan emosionil mulai dengan narsisisme (cinta diri) pada  tahap kanak-kanak. Tetapi dengan pendewasaan pribadinya hendaknya orang makin lama makin mampu bersikp altruis ( mencintai orang lain0. Si hidung belang dan pemain cinta terpaku pada keadaan remaja, dan pertumbuhannya terhenti.

15.  PENDENGKI
Kalau si tukang kalah mencari-cari alasan bagi kegagalannya, seringkai ia mengkambinghitamkan seseorang atau hal lain seperti pemerintah, nasib atau guru. Ia iri hati terhadap sukses  dan kebahagiaan orang lain karena hidupnya sendiri, kalau dibandingkan celka. Ia diperlakukan tidak adil oleh nasib. Kita semua tergoda menerangkan kegagalan kita  dengan berbagai macam sebab yang bukan kekurangan  kita sendiri menonjolkan perlakuan tidak semestinya oleh orang-orang lain ; ketidak adilan atau keadaan seakan-akan berseongkol meentang kita dll. Semuanya ini membuat kita lebih mudah menghadapi kegagalan.
Pendengki biasa menghabiskan tenaganya dengan mendengki dan karenanya tiada agi tenaga untuk mencaai sukses. Kadang-kadang tukang kritik, yang paling pedas mengecam apa saja (pemerintah, Gereja, sekolah dll.), justru tidak pernah berbuat sedikitpun.

16. PENDERIATAAN ITU BUMBU HIDUP
Beberapa orang neurotik menerima penderitaan hidup sebagai keharusan. Mereka merasa berdosa bila menikmati kehidupan ini. Abraham Lincoln berkata : «orang akan berbahagia sejauh mereka menghendaki sendiri untuk berbahagia ».  para penyiksa-diri ini setiap kali merasakan kenikmatan, langsung mencari siksaan sebagai tebusan. Mereka jarang menggunakan uang untuk hal-hal yang tak penting. Mereka tak dapat menikmati suatu hiburan dengan sungguh-sungguh kalau tahu ongkosnya mahal. Mereka suka tersangkut masalah cinta yang tanpa harapan tercapai atau tergila-gila pada seseorang yang sama sekali tak mungkin dijangkau. Kalau menangkap dirinya menilmati kesenangan, segera mereka mencari-cari cara untuk menghukum diri sendiri sebagai pengganti. Keuntungan materiil dipndang sia-sia, tak berguna. Jaranglah penderita ini menyadari bahwa kekurangannya terletak dalam dirinya sendiri.
Sumber penyakit ini biasanya rasa bersalah. Orang ini menganggap tidak sepantasnya mengalami rasa senang atau nikmat biasanya ia juga penuh skrupsi (keberatan) dan cenderung ke paranoia. Ia menghukum diri sendiri dengan teliti dan menganggap orang lain juga membencinya. Sebab, ia percaya bawa perasaan mereka terhadap dirinya tentulah sama seperti ia sendiri. Tuduhan di dalam diubah menjadi tuduhan dari luar. Orang demikian biasnyanya ingin terus menyenangkan orang lain dan takut kalau mereka tak setuju.
17. PENGAKUR
Orang ini mengutamakan damai diatas segala-galanya. Demi damai ia bersedia menjual pendiriannya keada orang lain. Sikap ini seringkali disebabkan karena tkoh berwibawa yang di hadapinya terlampau kuat dan karena perasaan bersalah yang mendalam. Orang pengakur tidak mau dan tidak berani melawan pendapat umum atau menghadapi resiko tidak diterima orang lain. Ia sering di puji karena bersedia menurut. Tetapi pujian ini dibayar mahal. Yaitu dengan emosi-emosinya yang terpaksa dipendam. Sifat tidak suka menentang pendapat umum atau yang sedang ‘in’ membuat ia seorang tak bernama di antara orang banyak. Kadang-kadang orang ini memperlihat gejala-gejala psikosomatis tertentu karena alam bawah sadarnya lama-kelamaan diisi penuh oleh segala perasaan yang harus dipendamnya supaya tetap dianggap orang baik yang selalu akur.
18.  PENGEJAR KENIKMATAN
Orang dengan tipe “kesenangan-saya-di atas-segalanya“ mencoba menyembunyikan ketidakmatangan emosionilnya di bawah berbagai kesenangan. Tetapi apabila ia berhubungan dengan orang-rang lain, ketidakmatagannya akan nampak lebih cepat. Ia serupa anak kecil dan neurotik (‘anak’ yang sangat dipengaruhi emosi) yang harus dengan segera memdapatkan segala yang diinginkannya. Inilah ciri-nya yang khas. Ia tidak mau menahan keinginan untuk menikmati sesuatu. Ia tidak dapat menangguhkannya barang sebentar sehingga punya waktu untuk melihat akibat-akibat perbuatannya.
Karena tidak mampu menangguhkan kesenangan buat sementarapun, lama-kelamaan ia mencari kenikmatan itu dari apa saja dan dengan mengorbankan siapa saja. Begitu rangsangan akan suatu kenikmatan bangkit secara otomatis ia beraksi. Kebiasaan mengejar kenikmatan itu sering tumbuh sebagai kompensasi atas segi-segi kehidupan yang sukar. (‘Saya tak dihiraukan dan tak dimengerti, maka saya akan memuaskan diri dengan makan berlebihan atau dengan masturbasi’)
19. PENGUASA
Peran ini bercirikan keinginan berlebihan untuk menguasai hidup orang-rang lain bahkan cara berpikir mereka. Seperti kebanyakan orang yang melebih-lebihkan kebijaksanaan atau kepentingan mereka, si penguasa diganggu jiwanya oleh rasa kurang mampu yang mengisi bawah sadarnya. Aneh, orang begini sering menganggap diri begitu mampu, sehingga ia tidak menyadari cara-caranya yang memaksa. Biasanya ia memandang tingkahnya yang memaksa itu perlu, semestinya dan wajar. Penguasa sering sekali terganggu oleh macam-macam ras permusuhan. Karena ditekan, maka perasaan ini juncul kembali dalam bentuk egoisme dan tidak peduli akan orang-orang yang harus dicintainya.
20. PENYEBAR GOSSIP
Inilah permaianan demi melindungi perasaan sendiri. Orang ini, karena tidak mampu mendayagunakan kemampuan dan dalam hati/egonya, lalu mencari harga dirinya dengan merongrong harga diri orang lain. Inilah kritik yang menghancurkan. Memang lebih mudah merendahkan orang lain daripada mengangkat diri sendiri  dengan suatu sukses. Berdiri di atas atau dibawah adalah relatif. Maka merendahkan orang lain tentulah meninggikan tingkatan mudah menyerah, dan karena kecewa tidak bisa mencapai cita-cita sendiri (yang semu).
Benjamin Franklin berkata, kalau kita mau mengetahui kekurangan seseorang, pujilah dia dimuka kawan-kawannya yang setingkat,- mereka cepat akan segera berusaha menurunkannya. Memperkatakan orang (atau gossip) dapat pula mengobati rasa bersalah. Kita membicarakan kejelekan orang lain dengan tak habis-habisnya, supaya kita tidak perlu merasa tak enak tentang kekurangan-kekurangan kita sendiri.  Dengan ini dapat pula diterangkan mengapa orang suka mendengar tentang skandal-skandal dalam koran, majalah dan obrolan yang dengan senang hati menyediakannya. Setelah membaca dengan asyik tentang orang lain yang membunuh atau menipu, kawin-cerai dan main korupsi, maka kebohongan atau ejahatan yang kita lakukan tidak lagi nampak begitu besar. Maka kita boleh tenang, karena tidak lebih jahat daripada orang lain.
21. PENYENDIRI
Ada lagi cara melarikan diri, yaitu isolasi. Orang ini menutup diri terhadap orang-orang lain, hidup menyendiri dan mencoba meyakinkan diri bahwa ia menyukai cara ini. Dengan memasuki pola penyendirian semacam ini, ia berhasil menghindari tantangan-tantangan kehidupan dan masyarakat yang memusingkan. Ia mengambil sikap puas dengan dirinya sendiri, mencemooh pertemuan-pertemuan, menertawakan persahabatan dengan sikap bahwa ia tidak perlu akan orang lain. Ia berkata kepada diri sendiri : ’Aku sudah mencapai tingkat yang lebih tinggi sehingga tidak lagi perlu akan pergaulan dengan mereka itu.’
Orang dapat menderita gangguan jiwa terombang-ambing antara dorongan menghubungi dan menjauhi orang lain. Si penyendiri memilih yang kedua enjauhi orang lain. Ia enarik diri. Karena ia menghindari jangan sampai gagal lagi dalam usaha bergaul itu. Akibat dari sikap itu tergantung dari apa yang menyebabkan ia cenderung menjauhkan diri dari orang lain. Kalau yang paling dominan adalah rasa permusuhan, akibat mungkin sebuah ledakan dahsyat seperti tindak kekerasan. Kalau sebab itu kegelisahan, mungkin tumbuh kelainan neurotis, yang diulang-ulang pada saat ketegangan (seperti berulang-ulang mencuci tangan). Kalau itu phobia, ia akan semakin jauh dari pergaulan. Dengan cara merajuk ia dapat mencapai kepuasan yang dibutuhkan dari membelai rasa kasihan pada diri sendiri, tanpa perlu mengatasi situasi-situasi sulit dengan berkomunikasi
22. PRASANGKA
Sikap berprasangka jelek tumbuh dari kegelisahan bergaul, lebih-lebih pada orang-orang yang tidak merasa aman. Sikap berprasangka timbul karena orang membutuhkan semacam penyaluran bagi kegelisahan da  rasa perusuhan. Tetapi penyaluran itu tak ada manfaatnya bagi perkembangan pribadi orang yang diprasangkai namun bagi orang yang memelihara prasangka. Karena merasa tidak aman, berada di luar golongannya sendiri dianggap suatu ancaman. Ia memeusuhi mereka karena membayangkan bahwa diancam oleh mereka itu. Ia tak mungkin menjelaskan secara logis, mengapa ia merasa demikian. Pokoknya sesama yang tidak masuk golongannya adalan merupkan ancaman.
Prasangka adalah ‚delusi‘ emosional tetapi tidak pernah diakui demikian oleh yang bersangkutan. Bahkan ia dapat bersikap keras dan mencari-cari istilah-istilah ilmiah untuk menjelaskan prasangkanya. Ingatlah, bahwa rasangka sama dengan penilaian sebelum mempertimbangkan bukti-bukti. Sangat sukar baginya mengakui bahwa osisinya tidak masuk akal.
Seringkali masyarakat umum membantu membenarkan prasangka kita. Maka orang yang berprasangka tidak perlu bersusah-susah mencari sendiri dalih untuk membenarkanya. Cukuplah membeo pandangan umum, pandangan golongan, surat kabar tertentu, partai, bahkan kadang-kadang umat beragama.
23. PESAING
Bersaingan merupakan hal biasa. Tetapi dalam permaianan ini si pesaing harus menang, apapun juga yang dilakukan. Segala sesuatu dijadikan soal kalah atau menang. Ia tidak berunding, ia bertengkar. Kemenaga-kemenangan yang dikearnya sering engorbankan orang lain. Mungkin itulah kompensasi menebus kekurangan emosionil atau karena pada masa kanak-kanak ia kurang diterima. Akibatnya adalah rasa tidak aman. Ia selamanya meragukan harga dirinya. Oleh karena itu, ia terus menerus terpaksa membuktikan bahwa ia bernilai. Caranya, dengan bersaing, bertarung dan menang. Keperluan psikis supaya diakui menambah semangatnya untuk berjuang. Ia memusuhi siapapun yang dirasa melampaui atau mendahuluinya. Lama-kelamaan ia semakin dilanda oleh perasaan gagal karena nafsunya untuk menang makin hari makin loba. Akhirnya, ia tak mampu lagi membuktikan kelebihannya dan berakhir dalam frustrasi. Biang semua itu: Ia tidak dapat membedakan antara dirinya sebagai pribadi dan hasil serta sukses yang dicapainya, antara apakah dia itu dan aa yang dipunyainya.
24. SELALU BENAR
Orang ini jarang atau bahkan tak  atau bahkan tak pernah mau kalah dalam mengadu bukti. Biarpun ia terang-terangan habis akalnya, dapat saja ia menyelamatkan kedudukannya sebagai yang menang. Ia tidak mendengarkan baik-baik dan nampaknya tidak ingin menerima apapun dari orang lain. Sesungguhnya, harga diri orang ini terancam bahaya. Ia bertindak dengan sangat yakin dan pasti, dengan tujuan bertahan melawan keraguan yang mengecilkan hatinya. Keraguan ini bergerak terus di dalam bawah sadarnya dan menggerogoti keyakinannya. Tetapi dalam kelakuannya yang kelihatan ia menunjukkan sikap yang sebaliknya. Tanpa disadari ia sangat ragu-ragu tentang diri sendiri dan pendapat-pendapatnya.
25. SI AWET MUDA
Inilah permainan orang yang sudah mulai tua dan tak dapat menerima kenyataan itu seringkli orang-orang setengah umur betapa daya tariknya menurun. Rambut jadi ubanan, perut menggendut, leher erkerut-kerut. Sebagai kompensasi atas kemerosotan ini orang-orang yang tidak pernah berkembang menjadi manusia dewasa da yang tak pernah sungguh-sungguh mengadakan ikatan emosionil dengn orang lain, mulai mencari kekasih yang muda. Kompensasi tidak dicari hanya utuk kemerosostan lahiriah itu, melainkan juga untuk kemerosotan emosionil yang nampak dalam tiadanya ambisi lagi, kelelahan dan rasa murung yang makin sering.
Yang meyedihkan ialah bahwa orang ini megalami pembekuan emosionil. Sebab, ia t5ak pernah belajar mengadakan hubungan yang berarti dengan orang-orang lain sebagai pribadi dengan pribadi. Pada usia setengah umur ini tiada lagi banyak hal yang menghiburkan. Dia dulu menilai tinggi-tinggi sex appiel yang kini telah merosot. Dan ia takut untuk mengakuinay. Dengan sedih dicobanya menyembunyikan dagu yang tersusun, otot yang kendor, kerut-kerut kulit yang makin berlapis-lapis, uban yang makin banyak dll. Mereka berusaha berpikir dan bertindak tnduk seperti masih muda. ‘Sex appiel’ tidak pernah dan tidak mungkin menjadi kunci bagi segi-segi kehidupan yang lebih mendalam dan menopang lanjunya usia.

26. SI KORBAN
Komplex merasa dikejar-kejar atau merasa menjadi korban adalah gagguan emosionil yang disebabkan prasangka dan kecuriaan. Penderita ini menganggap setiap orang membicarakannya. Kalau pada hari perkawinannya upacara hampir gagal karena hujan lebat, ia menganggap Tuhan tidak berkenan dan memusuhinya secara pribadi. Jadi, ia selalu dihantui perasaan dirinya menjadi korban. Perlu dicatat bahwa setiap orang kadang-kadang mempunyai perasaan semacam ini orang yang sangat normalpun terkadang menederita karena khayalan yang tidak masuk akal. Namun, pada orang normal delusi ini tidak terlalu ekstrim dan tidak menghilangkan semangat hidup. ‘Si korban’ berada dalam keadaan yang sama dengan seorang pendusta yaang terpaksa selalu harus mengarang dongeng-dongeng yanh baru untuk membenarkan dustanya yang lalu lama-kelamaan dunia buatannya sendiri menjadi tersusun baik-baik.
Meskipun cerita-ceritanya tidak beruntun sama sekali, ia terus berpegang padanya. Delusi selalu menjadi korban ini, biasanya tumbuh dari rasa kurang harga diri. Orang membenci kekurangannya sendiri dan dan menganggap orang lain berpikir sama tentang dia dan kekurangannya itu. ‚Pasti mereka membenci saya.‘ ia tidak dapat berhubunga secara memuaskan dengan orang-orang lain biasanya sangat perasa. Egonya mudah tersinggung. Karena merasa ditolak orang lain, ia makin menjauh, makin menyendiri dan mengasingkan diri dari mereka. Skhirnya, ia tidak sanggup lagi meneliti penafsirannya yang keliru itu tentang orang lain. Ia menyangka bahwa ia kurang mencurigai orang-orang lain, maka ia menjadi korban perainan mereka.
Demikianlah anggapannya. Lalu iaun mencurigai siapa dan apa saja dan tak dapat percaya lagi. Dengan orang seperti ini tak mungkin dijalin hubungan normal. Memang, setiap orang harus curiga barang sedikit, kalau tidak, kita akan selalu tertipu dan bodoh. Namu demikian, si penderita melangkah terlalu jauh, ia curiga terus. Ia tidak pernah tidak menyalahkan orang lain. Kebiasaan ‚memncari kambing hitam‘  lumrah baginya. Ia tak dapat membedakan antara tanggungjawab sendiri dan peran orang lain atas timbulnya persoalan-persoalannya.
27. SI LEMAH LEMBUT
Biang perasaan sayang dan sentimentil yang berlebihan ini adalah suatu siasat, yaitu kompensasi (yang tidak disadari) bagi kecenderungan sadis (puas dan suka menyiksa dengan kejam). Siapapun kadang-kadang cenderung bersikap kejam, tetapi orang ini sungguh-sungguh takut akan kecenderungannya yang kuat ini.
Kompensasi hampir selalu menuju overkompensasi (kompensasi keterlaluan). Pendidikan membut orang itu tak berani dan tak mampu melihat diri sendiri secara sebenarnya dan mengakui nafsunya yang cenderung pada kekejaman. Ia berusaha sekuat tenaga memungkiri kenyataan yang tak apata diterimanya itu. Orang ini menjadi lemah lembut terhadap binatang kesayangannya, sangat manis terhadap anak-anak kecil, memanjakan mereka dan menunjukkan kasihsayang dan kelembutan yang berlbihan-lebihan ; ia selalu sangat haus dan sopan.
Ia biasanya menuruti keinginan hatinya dalam segala hal, sehingga orang menjadi ragu apakah kepalanya turut berperanan hatinya menentukan segala sesuatu. Ia dapat menunjukkan segala rua emosi halus, tetapi tak pernah, atau jarang-jarang menyatakan emosi yang agak keras. Sebab, ia takut akan kekerasannya, lalu ia menekannya supaya jangan sampai bertindak kejam tanpa batas. Kaum wanita lebih cenderung pada siasat ini, karena adat mengajarkan nahwa emosi-emosi kejam dan bermusuhan tak pantas bagi wanita.
 28. MAMAISME
Ibu-ibu yang selalu melindungi dan sangat memanjakan anak biasanya akan meyebabkan ‘mamaisme’ anak dan yang mempunyai arti dalam segala hal. ‘Anak’ ini akan mengalami keterasingan, untuk anak yang ibu tidak mau memperhatikan dan menuruti segala kerewelannya. Permainan si Mama ini tidak digerakan oleh cinta yang tulen, sehat dan matang. Ada tiga seban lain yang mungkin: 1) Kegelisahan neurotis  Si Mama tak merasa aman.  Ia selalu kuatir tentang keselamatan anaknya kaau ia tidak melindunginya. Rasa kuatir terus ini biasanya menular pada anak. Yang mana hal seperti ini tak pernah menikmati rasa senang mempunyai anak, melainkan gelisah karena memikirkan terus dengan hati penuh kuatir. 2) Kebencian. Meskipun kedengaran aneh, sikap terlalu melindungi ini kadang-kadang merupakan sebuah overkompensasi atas kebencian yang tidak disadari terhadap anak itu. Untuk menebus kebencian ini si Mama menunjukkan pengabdian yang sangat teliti. 3) Frustrasi dalam hubungan suami-istri; Isteri yang kecewa dan tidak bahagia karena suaminya, sering mencurahkan tumpahan rasa sayangnya kepada anak. Dalam keadaan seperti ini anaklah yang celaka. Ia harus memikul akibat kekecewaan cinta ibunya.
29. SI PENCEMAS
Keceasan wajar adalah sebanding dengan ancaman nyata yang diceaskan. Kecemasan neurotis tak seimbang dengan bahaya yang sesungguhnya. Sebab paling umum kekhawatiran si pencemas ini adalah rasa tidak aman yang dialami masa bayi. Kalau kanak-kanak tidak menikmati keharusan rasa aman, kalau ia tidak merasakan tentramnya dalam pelukkan, diayun-ayun lembut sebelum tidur dll. Dan kalau anak tidak yakin akan kasih sayang orangtuanya pada masa itu, sangat mungkin ia kelak tidak menjadi orang yang berjiwa sangat cemas.
Bersicemas adalah cara yang tidak matang untuk menyelesaikan suatu kesulitan. Si pencemas biasanya melakukan hal-hal yang sama berulang-balik dan tak pernah sampai kepada tujuan. Ia mengulang-ulang pernyataan sia-sia mengenai masalah-masalahnya, menyebut alternatif-alternatif tanpa menentukan pilihan. Ia berulang-ulang menjajarkan akibat-akibat yang mungkin andaikata-andaikata ia mengambil keputusan hari ini atau hari itu. Mungkin ia merasa bersalah juga karena tidak pernah berbuat apapun yang berarti dan karenanya ia mengerjakan hanya satu kali ia bersicemas terus.
30. SI PENCEMOOH
Cita-cita yang berlebihan sering patah dan membuat orang menjadi sinis, suka mencemooh dan mencari-cari kesalahan orang. Orang ini beranggapan bahwa dunia sebetulnya diperuntukkan bagi kesenangannya, maka seringkali berbenturan dengan kenyataan. Lalu, ia membalas dengan sikap sinis. Pada dasarnya si pencemooh adalah seorang anti-kenyataan yang busuk hati. Keadaan tidaklah seperti yang dikehendaki. Oleh sebab itu ia berusaha menhancurkan gambaran orang-orang lain juga. Ia tidakmempercayakan siapapun. Seluruh susunan masyarakat ini tidak ada yang  beres, selama ia main peran si pencemooh ini, ia tidak merasa peru memandang diri sendiri secara jujur. Tidak pula ia harus bersusah-susah menyesuaikan diri dengan kenyataan. Kecepatannya dalam menemukan kesalahan-kesalahan orang lain merupakan kejala rasa permusuhan yang terpendam. Hidup ini didapatinya tidak seperti yang diinginkan. Ia tidak pernah belajar ikut merasakan keadaan orang lain atau bertoleransi. Dan ia belum pernah mengasihi seorang lain dengan sungguh-sungguh. Maka dari itu seorang sinis adalah sangat kesepian dibelakang ‚cibirannya‘.
31. SI TAMPAN DAN SI CANTIK
Biasanya pesolek atau menyombongkan keindahan jasmani adalah suatu kompensasi atas rasa rendah diri sebagai pribadi. Si tampan atau Si cantik yang suka akan permaianan ini, terus-menerus melihat kecermin di dinding dan dalam cermin mata orang-orang lain untuk melihat keindahan dirinya, karena ia tak dapat memperoleh penghiburan yang lebih mendalam. Semacam kesedihan menyelubungi sikap pesolek seperti ini. Hidup ini baginya sudah akan lewat pada usia 35 tahun. Orang ini menyamakan pribai dengan tubuh jasmaninya saja. Pertanyaan “siapakah engkau ini?”  akan dijawabnya ‘saya tampan’, ‘saya cantik’. Dan andaikata ia jujur dan terbuka, ia akan menmbahkan ……….. tidak lebih dari itu, tampan atau cantik saja.

32. TUKANG NGELAMUN
Peran ini jelas suatu ‘permainan’. Pengelamun ingin sekali terbang meninggalkan kenyataan. Dalam dunia khayalnya ia mencapai hal-hal besar. Dimana ia terkenal dan dihormati. Keberhasilan yang diin ginkan merupakan kompensasi atas kegagalan dalam dunia nyata. Tukang ngelamun biasanya suka akan film dan cerita karena dapat enghidupkan imaginasinya dan menyajikan bahan baru untuk bermimpi-mimpi seterusnya. Lama-kelamaan ia menciptakan dunia nyaman di mana ia dapat menjadi  *seorang penting*. Seringkali tukang ngelamun mempunyai ambisi yang lebih tinggi daripada yang mungkin dicapainya. Tetapi alam khayalan menyajikan kompensasi bagi kekecewaannya terhadap kenyataan.  


Daftar Pustaka
Alwisol. (2012) Psikologi Kepribadian. Malang : Penerbit Universitas
Muhammadyah Malang.
Purwa Atmaja Prawira 2014. Psikologi Kepribadian. Ar-Russ Media Yogyakarta.
Yustinus Semiun, OFM. 2013. Teori-Teori Kepribadian. Kanisus Yogyakarta.
Koeswara, E. (2001) Teori-teori Kepribadian. Bandung Eresco.
Lynn Wilcok. 2013. Psikologi kepribadian. IRCiSoD Yogyakarta
Sumadi Suryabrata. (2005) Psikologi Kepribadian. Jakarta : CV Rajawali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar